TRILOGI KOPI: GENERASI KETIGA DARI KELUARGA PENJUAL DAN PEMBELI

Muniroh, Sinar Harapan

Trilogi kopi menghubungkan tiga hal yang saling bergantung antara pedagang, pegawai, dan pembeli. Di sini, fenomena yang saya rekam adalah gambaran historis perjalanan kopi dalam konteks perdagangan dan kebudayaan.

Kopi “Bis Kota” bukanlah kopi biasa bagi penikmatnya, melainkan kopi sebagai teman perjalanan kisah hidup keluarga penjual dan pembelinya. Wong Hin, yang berasal dari Cina, mengawalinya dengan mengantar kopi ke rumah orang-orang dengan menggunakan sepeda onthel.

Sejak 1969, Wong Hin berhasil mendirikan usaha kopi “Bis Kota” yang juga dikenal dengan nama lain “Kopi Terompet”, namun ia tutup usia pada 1972. Kini, warungnya yang bernama Sedap Jaya diteruskan oleh anaknya, Martono (80) dan cucunya di Pasar Mester, Jakarta Pusat.

“Dulu berdagang itu sulit, Jepang kejam. Saya memilih meneruskan berdagang seperti Papa daripada pergi ke sekolah,” kenang Martono di kediamannya.

Menurut Martono, yang menjadi tantangannya saat ini adalah maraknya kopi-kopi instan yang murah, sehingga membuat penjualnya menurun. “Dulu, orang beli kopi saya harus mengantre panjang, tapi sekarang sepi tidak seperti dulu,” ia kembali mengenang.

Meskipun tidak mudah untuk mempertahankan bisnis keluarga, Martono tetap menjaga kualitas kopi dari Lampung ini karena dia menghargai pelanggannya yang setia dari berbagai daerah yang datang untuk membeli kopi “Bis Kota” yang kini menjadi satu-satunya di Jakarta.

Abdul Hamid (54) telah setia melayani pelanggan kopi “Bis Kota” selama 30 tahun. “Saya senang bekerja di sini. Warung ini menjadi tempat mata pencaharian saya dari tahun 1984,” ujar Abdul, pegawai dari suku Sunda, di Bogor.

“Kalau bukan kopi “Bis Kota”, itu namanya bukan kopi,” ujar Fatimah (54). Perempuan keturunan Yaman ini sudah puluhan tahun menjadi penikmat kopi dan pelanggan di warung Sedap Jaya. Kebiasaan minum kopi berasal dari keluarganya, dan sampai saat ini dia turunkan kepada cucunya, Keenan (1). Kopi dipercaya dapat mencegah penyakit step pada balita.

Cerita perjalanan kopi “Bis Kota” amatlah panjang, hingga dapat melampaui tiga generasi. Ketika generasi ketiga itu bertemu di warung kopi, mereka kembali mengawali cerita baru yang dapat dikisahkan kepada anak cucu mereka kelak.


Muniroh

Lulusan dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) jurusan Jurnalistik dengan masa kuliah 2003-2008. Bekerja di Dewan Kesenian Jakarta di Bagian Digitalisasi Arsip Foto pada periode 2008-2009.

Sejak 2008, ia memutuskan untuk memilih dunia foto jurnalistik karena fotografi membawanya kepada realitas dan mengajaknya melihat realitas dari dekat.

Bekerja untuk harian Sinar Harapan sejak 2010 hingga sekarang, ia beberapa kali mengikuti pameran fotografi, antara lain di Galeri Oktagon dan Kampus Universitas Indonesia, Jurusan Sastra Belanda, di Jakarta.

Ia menyukai perjalanan ke desa-desa kecil di Indonesia, sambil membawa buku bacaan dan benang rajut untuk menemaninya dalam perjalanan.