SUARA DARI BHARATA
Ricky Martin, Majalah Bobo

“Langgengmu Hareapanku, Lestarimu Tanggung Jawabku”

Itulah moto yang dicanangkan oleh paguyuban seni Wayang Orang (WO) Bharata yang bertempat di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Perkumpulan yang lahir di ibu kota Jakarta pada 1972 ini tetap tegar bertahan di tengah arus moderenisasi global. WO Bharata saat ini menaungi lebih dari 100 orang penari dan pengrawit yang mendedikasikan hidupnya untuk seni tradisi Jawa.

Sangat menarik mengikuti alur kehidupan seniman WO Bharata. Walaupun mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi, semangat mereka melestarikan budaya Jawa di tengah Metropolitan Jakarta tak pernah surut. Berbagai penghargaan berhasil mereka torehkan di kancah seni tradisi nasional dan internasional.

Sebagian besar seniman itu tinggal di wilayah Sunter, Ancol, Jakarta Utara. Mereka hidup dalam kesederhanaan, malah bisa dikatakan berkekurangan. Sebagian mereka tinggal di sebuah aula olahraga yang disulap menjadi hunian sementara, yang akhirnya menjadi rumah mereka.

“Kami manggung di Gedung Bharata setiap malam Minggu semata-mata demi melestarikan budaya, bukan komersial,” ucap Krisna, generasi ke-7 WO Bharata. Honor sekali manggung setiap malam Minggu itu maksimal Rp 60.000, dan paling rendah Rp 25.000, tergantung peran yang dibawakan. Nilai yang sangat sedikit dan tak sebanding dengan besarnya kebutuhan hidup layak di kota Metropolitan.

Namun, hal itu tak membuat mereka berpaling dalam melestarikan budaya. Untuk menambah penghasilan bulanan, di antara mereka ada yang menjadi pelatih tari dan menjadi tenaga konsultan professional event organizer wayang orang untuk perusahaan atau instansi pemerintahan.

“Kamu tidak akan menjadi kaya jika menekuni profesi seniman wayang orang. Namun, kamu akan mendapatkan ilmu dan faedah yang banyak dari seni tradisi ini,” tutur Marsam, ketua Paguyuban WO Bharata, kepada generasi muda Bharata. Pesan itu terus ia sampaikan kepada generasi muda agar mereka selalu terpanggil melestarikan warisan budaya seni wayang orang.

Sarjana gampang dicari, akan tetapi bisakah menyediakan satu orang pemain wayang orang?


Ricky Martin

Belajar fotografi di bangku kuliah Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung (2000).

Ia mengawali karier sebagai fotografer lepas di Bandung pada 2004, kemudian hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan majalah Bobo, kelompok Kompas Gramedia, sebagai fotografer tetap pada 2008. Di Bobo, ia bertanggung jawab membuat photo story tentang warisan Nusantara di rubrik Potret Negeriku.

Pernah menjuarai beberapa kompetisi foto, di antaranya: Juara 1 Lomba Foto Satwa Antar Jurnalis di Bali Safari and Marine Park (2009), Juara 1 Kontes Foto Sun Life (2013).