MENJAGA KERONCONG TUGU TETAP MERDU
Grandyos Zafna Manase Mesah, Detik.com

Pada 1641, Gubernur Jendral VOC, Jan Pieterszoon Coen, sukses menaklukan Jayakarta dan mengubahnya menjadi Batavia. Pada tahun yang sama, tentara VOC berhasil mengambil alih kepemimpinan Portugis di Malaka.

Setelah berhasil merebut kekuasaan Malaka dari Portugis, para tentara VOC pun akhirnya membawa orang-orang Portugis ke Batavia untuk dijadikan tawanan perang. VOC memperlakukan mereka sebagai budak, dan melarang mereka beribadah secara Katolik.

VOC menawarkan kebebasan kepada mereka, tetapi dengan syarat; mereka harus berpindah agama menjadi Protestan. Orang-orang Portugis itu setuju, dan bisa beribadah di Gereja Reformasi. Mereka pun dijuluki sebagai kaum merdequas atau mardijkers yang berarti “orang yang dimerdekakan”.

Setelah kaum mardijkers memeluk agama Protestan, pada 1661, VOC pun memberikan sebidang tanah untuk 23 orang mardijkers di luar Batavia. Tanah ini kemudian dikenal dengan Kampung Tugu.

Menempati daerah yang terisolasi memaksa mereka untuk berburu babi dan bercocok tanam demi bertahan hidup. Kaum mardijkers yang bercocok tanam kemudian mencari kesibukan dengan membuat alat musik dan memainkannya. Pada 1771, mereka membuat alat musik yang dinamakan macina. Inilah asal usul musik keroncong.

Seiring berjalannya waktu, pada 1925, keluarga Quicko yang dipelopori oleh Jozef Quicko dan Bernard Quicko mendirikan kelompok keroncong yang bernama Kerontjong Moeresco Tugu. Generasi pertama Kerontjong Moeresco ini bertahan hingga 1935. Kerontjong Moeresco ini dipimpin oleh Guido Quicko, penerus ke-5 dari keluarga Quicko yang pada akhirnya mengubah Kerontjong Moeresco menjadi Keroncong Cafrinho.

Hal tersebut dilakukan akibat adanya perbedaan pendapat di antara para personel Kerontjong Moeresco. Meski sudah diganti nama menjadi Keroncong Cafrinho, Ido, sapaan akrab Guido Quicko, tetap menjalani pakem-pakem yang dibuat oleh pendahulunya, seperti menggunakan kemeja koko putih bercorak batik, celana panjang batik, selendang, dan mengenakan topi pet di kepala para pemain musik yang berjumlah tujuh orang ini.

Guido bercita-cita menjaga musik keroncong yang telah diciptakan oleh para leluhurnya agar tetap bertahan. Bentuk pekerjaan nyatanya adalah dengan membuka latihan musik gartis di rumahnya setiap hari Selasa dan Jumat. Hal ini dilakukan Guido agar tetap terjadi regenerasi di antara para pemain Keroncong Cafrinho.


Grandyos Zafna Manase Mesah

Pria yang lahir pada 1989 ini mulai jatuh cinta pada fotografi sejak ayahnya memberikan kamera analog dengan lightmeter yang sudah tidak berfungsi.

Pada 2009 dan 2011, ia mengikuti workshop Galeri Foto Jurnalistik Antara. Sempat menjadi fotografer stringer di Media Indonesia (2011-2013) dan mencoba menjadi videografer freelance, ia memutuskan kembali ke dunia fotografi dan bekerja sebagai fotografer tetap di Detik.com mulai Juni 2013 hingga saat ini.

Ia pernah berpartisipasi dalam pameran foto “Enormousight”, “Imatajinasi”, “Jakarta 32″, “Sinabung and Kelud Calling”, dan “Fiksi Non Fiksi” di Jakarta. Bersama tiga sahabatnya, ia baru saja meluncurkan pameran dan buku foto Repertoar.