PARA PERAWAT JAMU
Herka Yanis Pangaribowo, Harian/Mingguan Olahraga BOLA

Berbagai catatan sejarah memperlihatkan jamu erat sekali kaitannya dengan nenek moyang bangsa Indonesia, apalagi perihal kesehatan. Salah satu catatan tentang jamu ada di Serat Kawruh bab Jampi-Jampi yang disimpan di perpustakaan Keraton Surakarta. Dalam Serat Kawruh bab Jampi-Jampi tercatat 1.734 resep jamu yang terbuat dari bahan beserta rekomendasi penggunaan dan dosisnya.

Ketika itu, orang-orang di lingkungan kerajaan saja yang mengonsumsi jamu, baik digunakan untuk kesehatan maupun bahan perawatan kecantikan. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, jamu meluas ke masyarakat. Cara berdagang jamu pun kian beragam demi mencapai konsumen. Paling lawas, jamu dijual dengan cara digendong, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Zaman mulai berkembang, cara berjualan jamu kini pun mulai mengalami inovasi. Menjangkau konsumen dari berbagai lapisan masyarakat tak hanya dengan berjualan gendong. Sepeda onthel menjadi salah satu kendaraan untuk berdagang jamu. Kendaraan lain yang menggunakan tenaga manusia untuk berjualan jamu ialah gerobak dorong. Sepeda motor menjadi alat transportasi paling modern untuk berdagang jamu. Selain itu, inovasi berjualan muncul dengan tidak menggunakan kendaraan, yaitu mendirikan warung permanen dan nonpermanen.

Bangsa Indonesia selayaknya semringah dengan beberapa penemuan generasi terkini yang masih peduli dengan jamu. Regenerasi para perawat jamu tak pernah putus. Bahkan, ada yang sudah turun-temurun merawat jamu.

Jamu, tanaman berkhasiat untuk kesehatan tersebut, termasuk tanaman yang mudah ditanam di tanah Nusantara yang subur ini. Keampuhannya untuk menyembuhkan penyakit maupun menjaga kesehtaan tubuh telah diakui dari dulu hingga kini. Pantas jika jamu menjadi warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.


Herka Yanis Pangaribowo

Lahir 27 Mei 1989 di Bantul, Yogyakarta. Herka belajar fotografi di FISIP Fotografi Club (FFC) semasa menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo (2007-2012), dilanjutkan dengan magang sebagai pewarta foto di Jawa Pos Surabaya (2009) dan LKBN Antara, Jakarta (2010).

Setelah magang, ia bekerja sebagai pewarta foto di LKBN Antara; meliput peristiwa-peristiwa olahraga, seni budaya, ekonomi, dan pendidikan di kota Solo dan sekitarnya (2010-September 2013).

Saat ini, ia bekerja sebagai pewarta foto Harian/Mingguan Olahraga BOLA.