TERBATAS SEUTAS KERTAS
Andri Widiyanto (Media Indonesia, Jakarta)

Hidup tidak melulu soal pilihan. Terkadang kita tidak punya pilihan, misalnya tentang keluarga di mana kita dilahirkan. Sandi Junior (8) lahir dalam kondisi keluarga yang sulit: kedua orang tuanya tidak memiliki dokumen kependudukan, berada dalam tingkat sosial ekonomi rendah, begitu juga dengan jenjang pendidikan. Sandi kini hidup bersama mereka di kawasan nelayan area Cilincing di utara Jakarta. Tempat tinggalnya berdampingan dengan lingkungan prostitusi berkedok kafe karaoke.

Sandi biasa membantu ibunya berdagang kelontong di rumah. Jam buka toko mengikuti jam buka kafe, yaitu sore hingga pagi. Kebanyakan pembeli adalah pengunjung kafe karaoke. Di waktu luangnya, Sandi bermain bersama teman. Sandi juga kerap mengolah barang bekas menjadi mainan.
Ayahnya adalah buruh nelayan yang sedang tak melaut. Saat ini, ombak tengah tak bersahabat. Sejak usia 5 tahun, Sandi sering ikut ayahnya ke laut. Sebegitu akrabnya ia dengan laut, jika ditanya mengenai cita-cita, ia dengan tegas menjawab: “nelayan!”

Hingga kini, Sandi tidak mempunyai akta kelahiran. Padahal, dokumen itu adalah syarat untuk mengklaim haknya sebagai warga negara di Indonesia. Tanpa akta, mustahil Sandi dapat mengakses layanan pemerintah, mulai dari pendidikan sampai kesehatan.

Di kawasan itu, anak laki-laki lazimnya tumbuh dengan dua pilihan profesi: buruh nelayan atau tukang parkir liar. Sedangkan anak perempuan menjadi pelayan kafe, yang tugasnya beragam – dari menemani tamu hingga berperan sebagai PSK.

Sandi pernah mengalami kecelakaan saat bermain. Satu tulang kakinya bergeser. Naasnya, tanpa akta kelahiran ia tidak bisa mengakses fasilitas kesehatan milik negara. Karena tak pernah ditangani secara medis, hingga kini ia berjalan dengan kaki pincang sebelah.

Lantaran akta kelahiran pula, Sandi tak bisa bersekolah. Beruntung, ada Rumah Belajar Merah Putih yang memberikan bantuan pendidikan gratis kepada anak-anak putus sekolah maupun kurang mampu di areanya.

Memang, Sandi melek aksara. Tapi, apakah bekal kemampuan dasar ini cukup untuk membangun masa depan yang lebih baik?


Andri Widiyanto

Andri Widiyanto menekuni dunia fotografi sejak 2011, saat menempuh pendidikan Program Studi Fotografi di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) di Jakarta. Tugas akhirnya yang berbentuk karya dokumenter yang berjudul Pijar Ciptagelar ditampilkan dalam pameran ‘Visualektika’ (Jakarta, 2016). Ia kini bekerja sebagai pewarta foto di harian nasional Media Indonesia. Bagi Andri, profesi pilihannya ini adalah salah satu cara menjadi bagian dari sejarah.