PELITA DI TENGAH DELTA
Abriansyah Liberto (Tribun Sumsel – Tribun Network, Palembang)

Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 Filial berdiri di atas tanah wakaf milik seorang warga yang berharap dapat memfasilitasi anak-anak sekitar agar terbebas buta huruf. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari pusat kota Palembang, tepatnya di Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. Desa Saluran berbentuk sebuah delta yang terletak di tengah Sungai Musi, yang alirannya membelah kota Palembang menjadi dua bagian.

Siti Komariah adalah satu-satunya guru di sana. Ia mengajar 20 siswa dari kelas 1 hingga 6 di bangunan yang hanya berukuran 12 x 6 meter. Bangunan itu menjadi saksi dedikasi Siti, yang kerap mengajar sembari mengurus bayinya.

Sebenarnya, Siti bukanlah seorang lulusan sarjana atau diploma empat, tingkat pendidikan minimum yang ditetapkan negara untuk seorang guru SD. Ia seorang tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA), namun hatinya terpanggil untuk mendidik anak-anak di desanya. Upahnya pun tidak besar, hanya Rp 500.000 per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, ia berkebun tanaman sayuran dan menjual hasilnya.

Di Indonesia, kesejahteraan guru masih jauh dari ideal. Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rasyidi pada 2019 menyatakan bahwa masih ada sekitar satu juta guru yang belum sejahtera.

“Saat sekolah ini pertama didirikan, ada enam guru yang mengajar enam tingkatan kelas. Namun, satu-persatu terpaksa berhenti karena kurangnya kesejahteraan dan buruknya infrastruktur,” ujar Siti.

Infrastruktur daerah yang kurang memadai juga menjadi halangan bagi murid-murid setempat untuk melanjutkan pendidikan di kota Palembang. Beberapa anak terpaksa putus sekolah karena biaya transportasi jalur sungai yang mahal, sehingga membuat orang tua tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah lanjutan.

Kisah Siti Komariah adalah sebuah cerminan bahwa pahlawan tanpa tanda jasa di Indonesia tidak dihargai selayaknya. Namun, ini juga adalah kisah sebuah harapan yang lahir dari tekad untuk melawan kebodohan melalui pendidikan, tentang sebuah dedikasi yang tumbuh dari harapan akan munculnya siswa-siswa berpendidikan dan berdaya membangun infrastruktur di desa mereka.


Abriansyah Liberto

Abriansyah Liberto memulai karier sebagai pewarta foto lepas di media lokal saat duduk di bangku perguruan tinggi pada 2009. Lulusan Universitas Sriwijaya, Jurusan Teknik Elektro ini memiliki ketertarikan terhadap isu sosial dan lingkungan. Saat ini, ia bekerja di Media Tribun Sumsel (Tribun Network) sebagai wartawan foto. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Adinegoro Award (2015), Photo Of The Year dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2015) dan Juara II Kategori Lingkungan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2018). Ia juga pernah mengikuti pameran foto bertajuk ‘Mencegah Bara’ (2015) dan ‘Membangun Indonesia’ (2019). Bagi laki-laki yang akrab disapa Berto ini, fotografi jurnalistik bukan hanya sebuah gambar yang indah dan menarik, tetapi juga mampu membangkitkan empati bagi audiensnya.