SEMANGKUK BAKSO KASIH SAYANG
GUNTORO, Koran Jakarta

“Ngopi, Bos,” kata Tari di warung kopi langganannya di Pasar Kemiri, Depok. Hari masih pagi, baru pukul enam. Menyesap kopi biasa dilakukan lelaki berpostur tinggi ini setiap pagi sebelum berbelanja daging di langganannya. Selanjutnya, di tempat penjual daging, ia cukup mengucap, “Biasa, Bos.” Pemilik usaha Bakso Malang keliling di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, ini sudah bertahun-tahun belanja di situ sehingga penjual daging hapal apa yang dibutuhkan Tari.

Setibanya di markas, Tari disambut sejumlah laki-laki yang membantu menurunkan belanjaannya. Bising yang terdengar kemudian menandakan mulai sibuknya ia bersama anak buahnya memasak Bakso Malang yang terdiri atas bakso, keripik, mie, tahu, dan siomay. Setelah semuanya matang, anak buah Tari menata dagangan ke dalam gerobak. Sementara itu, Sang Bos menyapu dan mengepel lantai markas untuk anak buahnya istirahat siang.

Azan zuhur berkumandang berbarengan dengan selesainya mereka menata dagangan. Dengan beralaskan kardus mereka istirahat siang sebelum mulai berdagang. Pada saat semua anak buahnya tidur, Tari memasak hidangan untuk disajikan ketika anak buahnya bangun.

Kring….kring…..kring…. Bunyi alarm terdengar nyaring tepat pukul dua siang, membangunkan anak buah Tari. Setelah mandi dan makan siang, mereka sudah dinanti Sang Bos di luar yang akan membantu mereka mendorong gerobak keluar dari markas yang jalannya agak menanjak. “Anak buah saya punya keyakinan kalau saya bantu dorong maka dagangan cepat habis,” ujar Tari, tersenyum.

Bagi Tari, kunci utama kelarisan adalah kualitas. Ia selalu memastikan daging bahan baku bakso adalah yang terbaik dengan bumbu original. Ia juga menanamkan kepada anak buahnya tentang manfaat hubungan baik dengan semua konsumen.

Malam tiba, satu persatu anak buah Tari tiba di markas. Kotak tempat penyimpanan berisi uang hasil berjualan mereka setorkan kepada Sang Bos. Sistem bagi hasil diterapkan Tari. Dari total penjualan, setiap pedagang bakso keliling menerima bersih 25 persen. Sisanya dipegang Tari yang bertanggung jawab atas sekian biaya: bahan baku, tempat tinggal, air, listrik, serta uang makan harian anak buahnya. Usai berhitung setoran mereka mandi, makan malam racikan Sang Bos, dan bercengkerama.


Guntoro

Guntoro lahir di Jakarta 1 Mei 1987. Sebelum mengikuti Permata Photojournalist Grant 2016, Guntoro yang akrab dipanggil Olo ini mengenal fotografi melalui kegiatan-kegiatan di Forum Kreativitas. Olo menyelesaikan pendidikan formalnya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta pada 2011. Ia bekerja sebagai pewarta foto di Koran Jakarta hingga ia berpulang menghadap Sang Khalik saat meliput banjir di kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan, pada 16 Februari 2017 yang lalu.