KENCAN BUTA NAN MENGGODA
IMMANUEL ANTONIUS, Liputan6.com

Wanda, bukan nama sebenarnya, menyerahkan sisirnya kepada saya. Ia lalu duduk membelakangi saya yang saat itu sedang duduk bersila di lantai kamarnya. Wanda meminta saya menyisir rambutnya yang hitam panjang sepinggang.

Wanda mulai membakar rokok putihnya. Ia menyandarkan tubuhnya kepada saya. Rambutnya yang tak kunjung kering membasahi kaus hitam berkerah saya. Kami berbincang, berbagi canda. Ia mengambil ponselnya, menunjukkan foto pria-pria yang dikenalnya dari aplikasi kencan. Saya adalah pria ketiga yang ditemuinya. Ia selalu mengajak pria yang dikenalnya dari aplikasi kencan ke rumah agar kedua anaknya tahu dengan siapa sang ibu bepergian. Rasa penasaran yang begitu besar berhasil membunuh rasa takutnya.

Dini, juga bukan nama sebenarnya, punya sikap berbeda. Karyawati perusahaan asuransi di Jakarta Utara ini mengaku serius mencari pasangan hidup dari aplikasi kencan. Saya adalah orang ketujuh yang berhasil melakukan kopi darat dengan perantau asal Sumatra Barat ini. Butuh waktu tiga hari bagi saya sebelum Dini yang rambut sebahunya dicat pirang ini mau saya jemput di kosnya. Ia selektif menemui orang karena terlalu sering mendapatkan tawaran untuk berhubungan seks dari pria-pria pengguna aplikasi serupa. Hal ini membuatnya takut.

Sikap Dini wajar. BBC mencatat bahwa pada 2013 ada 55 kasus yang terkait dengan dua aplikasi kencan terbesar di dunia, mulai pelecehan, serangan seksual, pemerkosaan, sampai percobaan pembunuhan. Pada Oktober 2015, angkanya meningkat menjadi 412 kasus.

Wanda dan Dini adalah dua dari tujuh orang dari berbagai latar belakang yang saya temui melalui aplikasi kencan dalam satu bulan. Suatu angka yang rasanya mustahil saya dapatkan bila berkenalan langsung. Bila Dini berjaga-jaga, beberapa wanita lain tidak ragu mengajak saya ke rumah, bahkan ke kamar saat pertemuan pertama. Mereka juga tidak curiga saat saya ajak ke tempat sepi. Kadar kewaspadaan mereka memang berbeda-beda, tapi wanita-wanita yang saya temui semuanya mengaku tidak membayangkan bahwa orang asing yang ditemui bisa saja berbohong.


Immanuel Antonius

Anton lahir pada 1989 di Jakarta. Ia mulai menekuni fotografi sejak bergabung dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara angkatan keenam belas. Ia pernah bekerja sebagai stringer untuk Harian Umum Media Indonesia selama 2011-2015. Pada akhir 2015 ia memutuskan bergabung dengan liputan6.com hingga saat ini. Anton pernah dua kali menerima penghargaan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2014 dan 2016) serta menjadi pemenang Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin (2015).