PUKUL BALIK
DJULI PAMUNGKAS, Sindo Jabar

Buk, buk,buk!
Jab, jab, hook!

Suara pukulan mengenai sansak bersahutan dengan teriakan sang pelatih. Eva Dewi buyar dari lamunannya, gulungan bandasi pada lengannya jadi tak karuan. Kenangan masa lalu seketika terlintas. Seharusnya dia sudah ikut pemanasan lari dua kali putaran ring tinju, tapi dia malah teringat saat pada akhir 2010 mendengar vonis dokter Klinik Teratai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung: ia positif mengidap HIV.

Kebiasaan bergantian menggunakan jarum suntik untuk menginjeksikan heroin menjadikan Eva Orang dengan HIV dan Aids (ODHA). Padahal, pada tahun itu ia sedang mengandung anak ketiganya. Perasaan bersalah berkecamuk dalam dirinya. Keputusan dokter untuk melakukan operasi caesar saat persalinan pun mengundang tanda tanya besar dari kedua orang tuanya.

Dua tahun lebih Eva menyembunyikan kondisinya dengan kedok anemia. Kebiasaan Eva menitipkan resep pada adiknya yang apoteker akhirnya menguak rahasia. Adiknya heran akan antiretroviral pada rincian obat Orang tuanya tentu kecewa. Duka Eva tak berhenti sampai di situ. Keluarga suaminya memutus tali keluarga. Eva diceraikan suaminya. Menghidupi tiga orang anak dengan kondisi kesehatan yang istimewa jelas tugas sangat berat.

Perkenalan dengan seorang kawan yang sama-sama kerap berkonsultasi di Klinik Teratai di awal 2013 menuntunnya untuk kembali menemukan arti hidup di Rumah Cemara. Di tempat ini, ada program pelatihan Sport for Development untuk mewujudkan visi “Indonesia Tanpa Stigma”. Eva memilih tinju, sebuah cabang olahraga keras. Tapi, justru itulah yang dilakukan Eva untuk menepis anggapan ODHA tak bisa berbuat apa-apa.

Sekalipun setelah tiga tahun menggeluti tinju pukulan uppercut Eva mampu membuat lawannya sesak napas saat tepat mengenai ulu hati, menjadi petinju professional jelas bukan cita-citanya. Mendapat pengakuan dan hidup berdampingan sebagaimana biasanya adalah cita-cita terbesar dalam hidupnya.

HIV memang kejam, tapi stigma lebih kejam lagi. Eva ingin membuktikan bahwa ODHA tak identik dengan kondisi lemah. Maka, ia lebih senang menggulung bandasi pada tangannya, mengenakan sarung tinju, dan memukul balik pandangan negatif.


Dian Aprilianingrum

Dian mulai terjun ke dunia fotografi sejak bergabung dengan ECOLENS di kampus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia sempat bekerja sebagai akuntan sebelum akhinya pada 2012 memutuskan menjadi pewarta foto mengikuti dorongan hatinya. Sejak 2013 ia bekerja di Harian Suara Merdeka Biro Banyumas. Saat ini Dian juga aktif di Kelompok Logawa, sebuah komunitas fotografi dokumenter di Banyumas yang ia dirikan bersama tiga sahabatnya.