PIJAT ONLINE KANG UCUP
IMAM BUHORI, Merdeka.com

Yusuf dan Aida pasangan suami istri tunanetra. Mereka menolak belas kasih orang lain dan ingin mendapatkan penghasilan sebagai pemijat. Rumah kontrakan di kawasan Halim, Jakarta Timur, menjadi saksi perjuangan. Sebuah papan berukuran 75 x 50 sentimeter mereka pasang di daun jendela. Yusuf yang biasa disapa Kang Ucup ini memberi pelayanan pijat olahraga, lulur seluruh tubuh, dan shi-atsu. Untuk meyakinkan pelanggan, dia mencantumkan kata ‘Berijazah’.

Sebelum menjadi pemijat, Yusuf, 31 tahun, pernah mengadu nasib menjadi penjual koran di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sebuah kecelakaan lalu lintas pada 2007 merenggut penglihatannya. Kejadian memilukan itu ternyata membawa berkah. Dia bertemu dengan Aida, 28 tahun, asal Palembang, Sumatra Selatan, yang tuna netra sejak lahir. Saat ini sudah tiga tahun mereka membina rumah tangga.

Kang Ucup yang belajar memijat dari Panti Tunanetra PSBN di Cawang, Jakarta Timur, ini awalnya mengandalkan promosi getok tular. Pada November 2015, dia memutuskan mendaftarkan diri dalam jaringan pemijat berbasis daring (online). Dia berminat setelah seorang kawannya lebih dulu terjun. “Dengan aplikasi pijat online ini pelanggan tak perlu repot pergi ke tempat pijat,” kata Kang Ucup. ia mengandalkan ponsel pintar berbasis Android yang memiliki perangkat lunak Talkback. Dalam sehari, Kang Ucup bisa mendapatkan minimal dua pelanggan melalui aplikasi daring. Banyak orang lebih meyukai pijatan tuna netra daripada pemijat biasa.

Selama bekerja, Kang Ucup dibantu oleh sang keponakan Agus, 17 tahun, yang kadang menjahilinya dengan pura-pura tidak mendengar ketika diminta menemaninya berangkat ke tempat pelanggan.

Hari itu mereka bermotor ke Perumahan Ciracas, Jakarta Timur. Di sana, Firyal, 50 tahun, sudah menunggu kedatangan Kang Ucup. Tanpa panjang lebar, Kang Ucup menyiapkan matras sekaligus minyak. Kang Ucup memijat pelanggannya perlahan, mulai kaki hingga kepala, sambil sesekali mengobrol. Firyal tak banyak menanggapi dan terlihat menikmati pijatan. Pijat selama satu jam setengah itu bertarif Rp 115 ribu, sesuai yang tertera di aplikasi. Tak jarang pelanggan yang merasa puas memberikan sedikit uang lebih kepada Kang Ucup.


Imam Buhori

Imam belajar fotografi secara otodidak dari buku-buku dan kemudian dari para seniornya. Ia tertarik kepada fotografi karena kegemarannya naik gunung dan melihat pemandangan alam. Ia pernah bekerja di Harian Rakyat Merdeka dan media daring lainnya. Sejak 2012 ia bergabung dengan merdeka.com. Penghargaan yang pernah ia raih adalah Anugrah Foto Thamrin PWI Jaya ke-40 tahun 2013-2014, Citilink Award, lomba foto jurnalistik JICT-PFIJ 2015, dan lomba foto Thamrin 2016.