FANS DAN FANTASI TERHADAP JKT48
WAHYUDIN,Jawa Pos / Jawa Pos daily

Ikatan antara fans dan idola mungkin saja adalah jawaban atas kegelisahan para pelaku bisnis industri musik. Dalam dua dekade terakhir ini mereka harus menghadapi kenyataan pahit: pembajakan di mana-mana. Banyak orang lebih memilih mengunduh lagu secara ilegal di internet. Rilisan album fisik semakin tak dilirik, apalagi cinderamata resmi artis.

Namun, dalam kurun 5-10 tahun terakhir, muncul anomali. Beberapa musisi, utamanya berasal dari Korea dan Jepang, mampu menciptakan hubungan yang spesial dengan fans mereka. Para penggemar mereka rela membelanjakan uang untuk membeli album, tiket konser, foto resmi, merchandise, hingga tiket untuk sekadar berjabat tangan.

Perlahan, anomali itu menyapa Indonesia. Grup idol JKT48 yang menjadi aktornya. Puluhan bahkan ratusan artikel sudah membahas tentang bagaimana fanatiknya Wota, sebutan fans JKT48. Segala sesuatu yang dirilis resmi oleh JKT48 hampir selalu habis terjual. Pemandangan fans yang saling berebut untuk mendapatkan official stuffs JKT48 sudah lazim.

Wota adalah fans paling militan. Anti bagi mereka membeli album bajakan. Mereka juga kerap berlomba sesering mungkin menonton langsung aksi sang idola di Teater JKT48. Bahkan bak mendapat sihir, apa pun yang diminta JKT48 dan manajemen akan Wota turuti. Misalnya tentang aturan menonton konser. Haram bagi Wota memotret sang idola saat beraksi di panggung. Wota juga dilarang keras menyentuh anggota JKT48. Aturan-aturan itu mereka patuhi, tak ada yang melanggar! Jika melanggar, sanksi sosial di antara fans menanti. Belum lagi sanksi-sanksi lain dari pihak JKT48. Ini sangat menakutkan bagi Wota.

Manajemen JKT48 menjembatani para fans yang ingin bersalaman dan berbincang langsung dengan idolanya. Ritual ini diberi nama: handshake. Tentu saja dengan syarat. Yakni, fans harus membayar terlebih dahulu atau membeli beberapa album untuk bisa bersalaman dengan idolanya dalam waktu yang relatif singkat.

Semua kegilaan fans tersebut menunjukkan bahwa mereka benar-benar pasrah kepada sang idola. Kenapa “trust” itu begitu besar?

Perasaan tersebut muncul karena kebanyakan mereka menjadikan sang idola sebagai model. Namun, ada juga yang “terjerumus” alias kebablasan menjadikan sang pujaan sebagai “fantasi” dalam hal negatif.


Wahyudin

Wahyudin lahir pada 2 Februari 1990 di Medan, Sumatra Utara. Ia memiliki ketertarikan pada fotografi olahraga dan dokumentasi visual. Ia bergabung dengan Jawa Pos pada 2010 saat masih kuliah di jurusan Teknik Industri di Surabaya. Saat ini ia masih bekerja di lembaga yang sama dan ditempatkan di Jakarta. Sehari-hari ia banyak mengerjakan tugas pemotretan editorial nasional seperti foto olahraga dan bencana. Penghargaan yang pernah ia terima antara lain adalah medali emas untuk kategori foto olahraga di WAN IFRA Asia 2015 di Filipina.