PANGGILAN ALAM
Muhammad Fadli, kontributor majalah Garuda Indonesia Inflight dan Jalan-Jalan

Apa yang terlintas pertama kali saat kita dihadapkan pada dua kata ‘sekolah’ dan ‘pendidikan’? Barangkali kebanyakan dari kita akan membayangkan bangunan-bangunan beton, murid yang duduk rapi berjam-jam di dalam kelas, atau bahkan guru yang cenderung bersikap kaku pada anak didiknya. Tapi betulkah harus sesempit itu batasannya?

Nyatanya zaman telah berubah, dan agaknya karena itu pula ‘sekolah’ dan ‘pendidikan’ butuh sebuah batasan baru yang lebih luas. Ini tentunya penting, mengingat kemajuan di berbagai bidang tidak membawa banyak perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia.

Sekolah alam adalah salah satu solusi yang mencoba menjawab tantangan itu. Hadir sebagai antithesis sekolah konvensional, sekolah alternatif ini menawarkan pemandangan yang tidak biasa. Lupakan bangunan beton, kelas-kelas sekolah alam hanyalah berupa pondok-pondok kayu yang disebut ‘saung’. Para siswa juga tak harus berada di dalam saung tersebut sepanjang jam pelajaran karena ada banyak kegiatan luar ruang yang bisa mereka lakoni seperti outbound, olahraga, hingga berkebun dan beternak.

Gagasan sekolah alam ini sendiri sebetulnya sudah lahir sejak akhir 1990-an. Namun hingga kini masih belum cukup banyak yang akrab dengan model pendidikan alternatif ini. Dicetuskan oleh Lendo Novo, seorang mantan staf ahli kementrian BUMN, sekolah alam memang dirancang untuk memanfaatkan dimensi alam sebagai sumber ilmu. Kualitas tidak bertumpu pada tampilan sekolah, melainkan pada guru, metode ajaran berbasiskan alam, pengalaman belajar yang menyenangkan, dan kurikulum yang memadai.

Sekolah Alam Bogor adalah salah satu dari beragam sekolah serupa yang belakangan mulai tersebar di berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Berawal dari sekolah untuk anak-anak jalanan, para pendirinya lantas merubahnya menjadi sekolah alam. Kini siswanya yang berjumlah ratusan tersebar dalam tingkatan playgroup, TK, SD, hingga Sekolah Menengah.


Muhammad Fadli

Muhammad Fadli is a Sumatran-born Indonesian photographer based in Jakarta, Indonesia, focusing on documentary and portrait photography. His personal projects explore different themes such history, subculture, environment, and social issues. He splits his time between editorial assignments, corporate and commercial works, personal projects, and as a father of a young daughter.

He is the cofounding member of Arka Project, an independent collective of Indonesian Photographers, and also a Climate Change reporting fellow of The GroundTruth Project. These days, apart from being a photographer, he also acts as photo editor and multimedia producer.

He is available for editorial and commercial assignments, especially documentary and portrait photography, aerial imaging, and multimedia productions.