MUTIARA DI UJUNG INDONESIA
Aditia Noviansyah, Tempo

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Sepenggal kata bijak presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno bisa menggambarkan optimisme sejumlah anak Papua yang belajar di tanah Jawa.

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua mengklaim saat ini memiliki 3.464 guru; namun jumlah ini tak cukup memadai karena masih banyak satu sekolah dengan enam kelas yang hanya punya seorang guru.

Salah satu upaya pemerintah daerah mengatasi ketimpangan adalah menyekolahkan anak asli Papua ke daerah yang lebih maju level pendidikannya seperti di ibukota Jakarta. Salah satunya di yayasan pendidikan yang diketuai Prof. Yohanes Surya. Beliau punya mimpi memajukan dunia sains dan teknologi nasional. Diharapkan mereka kelak bisa menjadi tenaga pengajar untuk memajukan pendidikan di daerahnya.

Anak-anak tinggal di asrama didampingi tenaga pendidik yang sudah terlatih. , Dengan cepat mereka mengejar ketertinggalan. Dari yang buta huruf, sekarang bisa membaca banyak buku, dari yang buta angka, kini mampu menghitung dengan cepat. Dengan ilmu, rasa kepercayaan diri pun tumbuh. Mereka tak lagi malu-malu berlomba mengacungkan tangan menjawab soal hitungan yang diberikan guru mereka.

Aktivitas belajar dimulai jam 05.00 pagi dan berakhir pukul 21.00. Menjelang ujian terkadang mereka belajar lebih larut. Semangat dan perjuangan anak-anak ini luar biasa besar untuk mengentaskan kampungnya dari kebodohan.

Hari Jumat pukul 15.00 usai jam sekolah adalah waktu mencuci sepatu dan pakaian kotor. Setelah beres, mereka diperbolehkan mengambil telepon genggam yang disimpan kepala kamar atau pembina. Momen yang cukup ditunggu-tunggu. Anak-anak bisa melepas rindu bercerita dengan orang tua dan sanak keluarga atau mendengarkan lagu dan menonton televisi lewat telepon genggam mereka.

Pemberdayaan menurut saya, satu tindakan atau perbuatan yang akan membuat perubahan sikap menjadi lebih baik.


Aditia Noviansyah

Lahir di Jakarta 26 November 1986. Mengenal dunia fotografi sejak masih duduk di bangku sekolah karena sering ikut ayahnya bertugas di kawasan pegunungan. Kemudian ia belajar memotret di Galeri Foto Jurnalistik Antara angkatan ke-13 pada tahun 2008.

Bergabung dengan koran Tempo di akhir tahun 2008 hingga kini. Penghargaan yang pernah diraihnya antara lain : Adiwarta 2011 Bidang Sosial, Frans Seda Award dalam kompetisi Gambara dan Juara 1 kategori foto esai Aliansi Jurnalis Independen 2011. Saat ini ia bekerja di kumparan.com.