METAMORFOSA
Suci Rahayu (Kompas.com, Malang)

Awal tahun 2020, bunyi ketuk palu Pengadilan Agama menandai lembaran baru hidup saya. Ada perasaan lega sekaligus janggal saat harus melepas sebuah ikatan yang sudah lama jadi bagian dari diri. Syukurlah, padatnya aktivitas sebagai pewarta foto olahraga menyita waktu sekaligus membantu beradaptasi dengan status baru ini.

Kemudian, pandemi datang. Ingar-bingar lapangan berubah menjadi suara riang anak-anak di rumah. Pusat kegiatan saya berpindah ke rumah. Perubahan ini memberi momen berharga menghabiskan waktu bersama kedua putri saya.

Namun berkurangnya kegiatan membawa cemas yang diam-diam menyusup dalam pikiran. Waktu luang memicu pikiran berlebihan tentang perpisahan. Berbagai kekhawatiran tentang saya, tentang anak-anak, dan tentang orang-orang sekitar merongrong.

Menurut psikolog Sri Wiworo Retno Indah Handayani, perubahan pola hidup memengaruhi kondisi psikis dan sosial seseorang sehingga gangguan kesehatan mental, stres, dan depresi tak bisa dihindari. Hal ini biasanya berujung pada penyakit fisik. “Salah satu cara move on dari kesehatan mental yang terganggu adalah tetap berusaha untuk tetap produktif. Juga, komunikasi dengan keluarga perlu tetap dijaga,” tuturnya.

Hari demi hari berlalu, dan pandemi belum juga sirna. Saya hilang arah. Bingung, seperti terjebak dalam labirin. Saya mulai mempertanyakan cara pandang saya dalam menyikapi hidup. Tetapi saya tidak bisa terus lari dari masalah. Jalan keluar satu-satunya adalah bangkit dari kegalauan. Saya mulai berdamai dengan diri dan situasi, juga kembali menjalin komunikasi lebih dalam dengan anak-anak dan orang tua. Tanpa mereka, saya tidak akan dapat melalui masa sulit ini.

Proses ini seperti metamorfosa. Saya seperti memiliki sayap baru untuk menjelajah dunia seiring proses berdamai dengan situasi. Saya menemukan semangat, sama seperti saat pertama mengenal kamera. Saya mulai pulih dari nestapa, sambil merangkum rasa di balik lensa.

Here comes the sun
Here comes the sun
And I say it’s all right

Little darling
The smiles returning to the faces
Little darling
Its seems like years since it’s been here


Suci Rahayu

Suci Rahayu lahir di kota Malang. Ia mengenal fotografi sejak duduk di bangku SMA, namun mulai mendalaminya saat mengikuti UKM Fotografi FOCUS UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) pada 2013. Kariernya sebagai jurnalis foto dimulai pada 2008. Minat pada fotografi olahraga muncul saat ia bergabung dengan Tabloid Bola pada akhir 2013. Kini, ia bekerja sebagai kontributor biro sepak bola di Kompas.com untuk wilayah Jawa Timur. Menurutnya, menjadi fotografer olahraga memiliki sensasi tersendiri karena menuntut konsentrasi dan kesabaran. Bersama empat teman, ia menerbitkan fanzine bernama Commonground pada 2007. Kini ia aktif sebagai anggota PFI Malang dan ikut membentuk sekolah fotografi gratis, Sunday School pada 2013.