SENANDIKA BADAI
Thoudy Badai Rifanbillah (Republika, Jakarta)

“Gusti, anakku sudah lahir, semoga saya segera sembuh,” ujar Bapak selagi terkulai di rumah sakit. Itulah momen beberapa menit untuk selamanya yang Ibu ceritakan, ketika aku dibaringkan di samping Bapak pada usia 10 hari.

Tumbuh kembang seorang anak dipengaruhi peran orang tua. Tapi, tidak semua anak lahir dan dibesarkan dengan formasi orang tua yang lengkap. Perceraian atau takdir batas napas kerap mengharuskan seorang anak tumbuh hanya bersama seorang ibu atau bapak.

Begitupun dengan saya. Selama 24 tahun, saya dibesarkan hanya oleh seorang ibu. Bapak telah meninggalkan saya dan keluarga tepat satu bulan setelah saya lahir ke bumi. Bapak meninggal di usia 29 tahun akibat kanker usus. Saat itu umur Ibu 26 tahun dan sudah memiliki empat orang anak. Kepergian Bapak menjadi ujian berat bagi Ibu. Perannya menjadi ganda. Selain mendidik anak-anak, juga menggantikan Bapak sebagai tulang punggung keluarga.

Roda waktu terus berjalan tak terasa. Selama belasan tahun, Ibu hidup dan menghidupi kami dengan keringat dan munajatnya. Hingga pada titik tertentu, Ibu memutuskan untuk menikah kembali dan membawa sosok baru ke tengah keluarga.

Sebenarnya, kehadiran sosok Bapak masih sulit saya gambarkan. Sulit menerjemahkan bagaimana rasanya digendong di pundak Bapak saat berkeliling taman, dibangunkan ketika terjatuh dari sepeda, diantarkan hingga gerbang sekolah, dinasehati usai berkelahi, berkeluh kesah ketika merasa lelah, atau sekedar berkumpul di meja makan menyantap sarapan. Masa-masa itu seperti bayang-bayang kabur. Tidak ada memori yang terselip di kepala saya tentang Bapak. Saya hanya mengenal dan meraba wajah Bapak dari album foto dan cerita singkat pernikahannya. Cerita itu sekilas tampak seperti penggalan kalimat di akhir sajak romansa.

Saya ingat ungkapan psikolog ternama, Seto Mulyadi atau akrab dengan sebutan Kak Seto, tentang kebutuhan anak terhadap kehadiran figur orang tua. Menurutnya, kehadiran figur bapak dalam sebuah keluarga berpengaruh besar terhadap keseimbangan perkembangan psikoseksual anak. Figur maskulin seorang bapak cenderung mendidik anak dari aspek kognitif, yakni tentang bertindak sebagai makhluk sosial, tanggung jawab, ketegasan, serta logika berpikir. Saya sadari betul bahwa aspek-aspek tersebut tidak mendominasi dalam diri saya.

Saya coba susun kembali memori tentangnya tapi tetap nihil. Ketidakhadirannya saat ini tersekat di dua bola mata. Namun darahnya menyebar di nadi saya sehingga terasa dekat, sangat dekat. Seolah kami terus bercakap dalam detak jantung. Apapun yang sudah terjadi kini saya coba syukuri. Menjadikan saya tetap tegar meniti masa depan, hingga kelak kami dipertemukan kembali.


Thoudy Badai Rifanbillah

Thoudy Badai Rifanbillah lahir di Bandung, 12 September 1996. Ia mengenal dunia fotografi saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dan bergabung bersama komunitas foto Photo's Speak. Ia mengawali karier sebagai pewarta foto sejak tahun 2019 di Harian Republika - tempatnya kini bekerja, pada desk sosial budaya, metropolitan, dan nasional. Ia pernah mengikuti XL Axiata Photojournalist Mentorship tahun 2020, juga ikut berpartisipasi sebagai pameris di Solo Photo Festival tahun 2020.