MENYELAMATKAN RUMAH BAGI EKOSISTEM
Fikri Adin, Harian Pagi Satelitpost

Terumbu karang adalah salah satu ekosistem terpenting dan terkaya di bumi. Terumbu karang yang sehat merupakan rumah bagi ribuan jenis hewan dan tumbuhan laut.

Berdasarkan penelitian Yayasan Terumbu Karang Indonesia (Terangi), kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Seribu mulai mengkhawatirkan, dengan persentase tutupan karang hidup 27 sampai 30%. Jika tidak dikelola dengan baik, maka akan akan semakin banyak ekosistem laut yang rusak.

Kerusakan terumbu karang salah satunya disebabkan oleh penambangan karang untuk kebutuhan bahan bangunan dan reklamasi pantai. Hampir setiap hari berpuluh-puluh meter kubik karang diambil untuk kebutuhan bahan galian C. Masyarakat tidak punya pilihan karena tidak adanya subsidi untuk mendapat bahan galian C dari daratan dengan harga terjangkau. Kegiatan penambangan karang juga didorong oleh kehidupan nelayan yang kondisi perekonomiannya di bawah sejahtera.

Keprihatinan ini menggerakkan Ismail (42), seorang kader konservasi nasional, mengampanyekan kehidupan nelayan yang ramah lingkungan. Bersama komunitasnya, Jaringan Monitoring Kepulauan Seribu, Ismail melakukan langkah-langkah pelestarian ekosistem terumbu karang di Kepulauan Seribu.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah transplatasi terumbu karang. Metodenya dengan mencangkok dan memindahkan potongan karang hidup dari terumbu karang yang kondisinya masih baik menggunakan media tumbuh ke lokasi terumbu karang yang telah rusak. Transplantasi berperan dalam mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak.

Dengan program tersebut, Ismail berusaha mengubah kebiasaan masyarakat, yang dulunya berprofesi sebagai penambang karang. Mereka diberdayakan menjadi petani karang hias. Harapannya, karang yang telah tumbuh dapat dijual sebagai karang hiasan sehingga masyarakat mendapat penghasilan secara ekonomi dan meninggalkan aktivitas sebagai penambang karang.

Ismail berupaya menumbuhkan kesadaran sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mata pencaharian alternatif ramah lingkungan. Masyarakat didorong untuk memanfaatkan sumber daya secara arif dan bijaksana sehingga kelestarian sumber daya pesisir dan laut dapat terjaga baik.

Pemberdayaan: berbagi pengetahuan atau kemampuan yang dimiliki kepada orang lain agar lebih berdaya.


Fikri Adin

Lahir di Pati 11 Juli 1990. Belajar fotografi secara otodidak saat menjalani kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas FISIP Unsoed Purwokerto. Memulai karir fotografi sejak tahun 2010 dengan magang di Kantor LKBN Antara Foto. Sekarang bekerja untuk Harian Pagi Satelitpost Purwokerto.