LARA LA ODE
Indra Abriyanto (Harian Rakyat Sulsel, Makassar)

“Waktu saya pulang dari rumah sakit, tetangga bilang kayaknya mindermi (khawatir), mau mengungsi dulu,” kata La Ode Wowo (63). La Ode adalah seorang penyintas Covid-19 kategori orang tanpa gejala (OTG). Ia didiagnosis positif pada Mei 2020 di RS Bhayangkara Makassar, Sulawesi Selatan. Kabar itu tersebar ke telinga tetangga. Mereka mulai menjaga jarak dari keluarga La Ode dan mencibir, lantaran takut tertular virus yang menimbulkan pandemi global ini. Satgas Covid-19 Nasional mencatat, pada Mei 2020, kasus positif mencapai 26.443 orang sejak kasus pertama diumumkan dua bulan sebelumnya.

La Ode diisolasi di rumah sakit. Awalnya, ia merasakan sepi dalam kesendirian. Pikirannya dihantui bayang kematian. Pikiran buruk bercampur dengan masygul, saat ia tahu keluarganya dipandang miring tetangga. Emosi yang campur aduk membuatnya stres, hingga berat badannya turun drastis dalam dua minggu. Sempat terlintas di pikirannya untuk mengakhiri saja hidupnya.

Di rumah La Ode, situasi begitu hening. Tak ada percakapan panjang. Anggota keluarga dirundung cemas serta rasa tidak nyaman atas sikap tetangga di kompleks perumahan Citra Bongaya, Jalan Andi Mappaodang.

“Kamiji (hanya kami) serumah yang saling memahami perasaan ditakuti warga,” ucap Sahrul (31), anak pertama La Ode. Ia menjadi penyemangat keluarga, khususnya bagi sang adik, Yulianti (24), yang tak henti bersedih. Bahkan, usaha jahit pakaian milik sang ibu, Rabiah Hasan (53), juga terdampak. Tak ada lagi pelanggan yang berani datang.

Dukungan keluarga membantu La Ode melawan tekanan batin. Masakan dari rumah dengan bumbu kasih mengalir ke kamar isolasi. La Ode juga meminta dibawakan radio agar bisa mendengar ceramah agama yang memberi rasa tenang baginya.

“Pas Bapak pulang naik bentor, tetangga yang sedang beli sayur di luar rumah perlahan-lahan menghindar,” kata Sahrul.

La Ode keluar rumah sakit setelah dinyatakan negatif Covid-19. Upaya menepis stigma terus dilakukannya. Ia berusaha mendatangi tetangga, meski ditolak. Namun ia tidak menyerah. Selang dua minggu, usahanya mulai membuahkan hasil. Para tetangga luluh dan perlahan mulai membuka diri terhadap La Ode dan keluarga.


Indra Abriyanto

Indra Abriyanto lahir di Makasar pada 6 Oktober 1996. Sejak semester terakhir pada pendidikan tingkat SMK, ia mulai tertarik pada dunia fotografi. Ketertarikannya ia salurkan saat berkuliah di perguruan tinggi Universitas Fajar (UniFa) Makassar dengan bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi Unifa (Uforia) dan UKM Pers Kertas. Selain itu, ia juga menambah ilmu fotografinya dengan mengikuti kelas reguler di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Makassar angkatan ke-3. Pada awal tahun 2018, ia mengawali karier sebagai fotojurnalis di media online Gosulsel.com. Ia kemudian bergabung di Harian Rakyat Sulsel pada pertengahan tahun 2019, tempatnya bekerja kini. Bagi Indra, fotografi bukan sekadar benda diam, namun sesuatu yang mengandung cerita. Ia aktif meliput berbagai isu termasuk metropolitan, politik, ekonomi dan bencana.