MEREKA YANG MENGUASAI PULAU
Johannes P. Christo (Pewarta Foto Lepas, Denpasar)

Di sini anjing hidup dengan merdeka. Mereka sesuka hati menempati ruang-ruang kosong di antara permukiman manusia. Bahkan di dalam Pura Besakih, pura terbesar yang sakral bagi umat Hindu, anjing Bali hidup dengan damai. Seakan menjadi penjaga kawasan suci. Alam serta budaya Bali memberikan ruang dan harapan bagi hewan domestik ini untuk hidup bebas.

Dalam kepercayaan Hindu, hubungan anjing dan tuannya bukan sebatas hewan dan manusia. Potongan epos Mahabarata menjadi dalilnya. Dikisahkan, Yudistira, salah seorang Pandawa Lima, menolak masuk surga apabila ia tidak dapat membawa anjing hitam peliharaannya. Ia ditemani anjing setia tersebut selama perjalanan ke puncak Himalaya menuju nirwana. Kisah ini menjadi dasar kepercayaan orang Hindu di Bali bahwa anjing peliharaan mereka kelak akan mengawal tuan mereka menuju surga.

Namun, posisi anjing di tengah masyarakat Bali kini membuahkan dilema. “Sesungguhnya penghormatan orang Hindu di Bali terhadap anjing itu luar biasa. Tapi karena ada masalah rabies, eliminasi selektif mesti dilakukan,” ungkap Ketut Puja, guru besar fakultas kedokteran hewan Universitas Udayana.

Pada 2009, wabah rabies merebak di Bali. Kasus ini sempat membuat anjing di Bali dipandang seperti musuh di tanahnya sendiri. Kasus gigitan anjing menjadi sorotan serius. Korban jiwa meningkat. Akhirnya, pemerintah membunuh banyak anjing yang tidak berkalung untuk menekan penyebaran virus. Lambat laun wabah mereda, seiring dengan vaksinasi anti rabies yang digencarkan. Tapi masalah sejatinya belum usai karena populasi anjing di Bali terus meningkat.

Per Juli 2020, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali mencatat populasi anjing di Bali mencapai 649.028 ekor. Sekitar 90 persen adalah anjing tak bertuan atau yang diliarkan pemiliknya. Artinya ada kurang lebih 520.000 ekor anjing liar hidup berdampingan dengan 4,3 juta penduduk di Bali. Angka ini menjadikan Bali sebagai wilayah dengan rasio manusia terhadap anjing tertinggi di Indonesia. Bahkan menurut Ketut Puja, jumlah anjing di Bali pada kenyataannya kemungkinan lebih banyak karena angka resmi tersebut adalah data anjing yang tervaksin saja.

Kebiasaan meliarkan dan membuang anjing adalah penyebab tingginya angka anjing tak bertuan. Komitmen memelihara anjing kadang tidak dipenuhi sang pemilik. Saat kecil, anjing dirawat karena dianggap masih menggemaskan dan mudah diatur. Tapi ketika dewasa, banyak dari mereka ditelantarkan. Alasannya, galak, susah diatur atau tidak lagi mampu memberi makan. Anjing-anjing ini pun terpaksa berusaha hidup mandiri, menjadi hewan liar yang harus berburu atau mengais-ngais makanan untuk bertahan hidup.

Anjing adalah hewan domestik. Mereka tidak memiliki predator layaknya satwa liar dalam rantai makanan. Karena itu, pengebirian diperlukan untuk menjaga keseimbangan populasi agar kelak pulau ini tidak didominasi anjing.


Johannes P. Christo

Christo adalah seorang juru foto yang memiliki ketertarikan khusus terhadap isu satwa dan lingkungannya, baik hewan liar maupun domestik. Ia sering terlibat proses dokumentasi berbagai upaya perlindungan dan penyelamatan satwa bersama LSM Jakarta Animal Aid Network. Selain itu, ia juga suka memotret hal-hal yang bersifat mistis, bersinggungan dengan kepercayaan dan adat lokal. Kedua minatnya tersebut membawa ia menyelami dunia fauna dan budaya spiritualisme. Berprofesi sebagai pewarta foto lepas sejak 2009 di Bali, ia berpengalaman bekerja dengan sejumlah media nasional serta internasional. Pernah mendapat beasiswa lokakarya fotojurnalistik, seperti Angkor Photo Workshop 2009 dan Foundry Photojournalism Workshop 2010. Baginya, fotografi adalah sebuah wadah kosong yang semestinya diisi dengan keilmuan lain agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.