Jacob’s Bat

Denty Piawai Nastitie (Kompas, Jakarta)

Waktu kecil, David Jacobs sering merasa minder karena mempunyai tangan kanan yang ukurannya lebih kecil dari tangan kiri. Melalui “panggung” tenis meja, David menemukan dunianya. Tenis meja memberi daya untuk merayakan keberagaman dan membangun
semangat kesetaraan.

David sudah mengenal tenis meja sejak berusia sembilan tahun. Kebetulan, di dekat rumahnya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ada meja ping-pong. Melihat kakak-kakaknya asyik bermain tenis meja, pria kelahiran Makassar, 21 Juni 1977, itu tertarik mencoba. “Setelah sering berlatih, ayah mendaftarkan saya berlatih di klub.
Ketika itu, pelatih menerima saya karena kasihan,” kata David.

Semangat pantang menyerah didukung sikap disiplin mengantar David meraih banyak prestasi. Dalam berbagai kejuaraan untuk atlet disabilitas dan non-disabilitas, David sukses mengalahkan lawan. Pada kejuaraan Asian Para Games 2018, dia sukses merebut dua medali emas.

Perolehan medali yang disertai hadiah materi tidak membuat David terbuai. Ayah empat anak itu berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan melatih anak-anak dan remaja daerah yang ingin mengikuti jejaknya sebagai atlet profesional. Kebanyakan atlet muda berasal dari kalangan non-disabilitas. Usaha ini dilakukan tak lepas dari pengalamannya ketika dia kesulitan mendapatkan teman untuk berlatih.

David merasa bangga dan puas saat melihat anak didiknya bisa menorehkan prestasi. Beberapa atlet muda berhasil tampil di SEA Games dan Asian Games. Namun, prestasi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. “Hal yang penting adalah anak-anak bisa punya karakter mandiri, disiplin, dan punya peluang hidup lebih baik. Melalui prestasi olahraga, anak-anak daerah bisa mendapatkan beasiswa atau tawaran pekerjaan,” tuturnya.

Berdasarkan penghitungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 10 persen dari penduduk Indonesia (24 juta orang) adalah penyandang disabilitas. Mereka kerap menjumpai banyak kesulitan hidup karena sering dianggap sebagai sumber aib, dikucilkan dalam pergaulan, dan mengalami permasalahan lainnya akibat kurangnya pemahaman pemerintah dan masyarakat dalam memandang isu disabilitas.

David beruntung karena bisa mengukir prestasi. Hal ini membangun rasa percaya diri dan membuatnya punya arti di masyarakat. Keluarga, terutama orang tua, Jan Jacobs (ayah) dan Neelce Samallo Jacobs (ibu), serta lingkungan berperan penting untuk membentuk dirinya. David berharap masyarakat lebih terbuka menyambut kaum disabilitas. Sama seperti masyarakat yang terdiri dari beragam individu, orang-orang
berkebutuhan khusus juga bagian dari Indonesia.


Denty Piawai Nastitie

Lulusan Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ini memulai karir jurnalistiknya sebagai penulis dan fotografer lepas saat masih duduk di bangku SMA. Karya fotografinya yang dibuat dengan menggunakan kamera ponsel pernah dimuat sebagai sampul majalah National Geographic Traveler. Bersama teman-temannya, Denty meluncurkan majalah digital, Backpack Idea, yang isinya berfokus pada fotografi perjalanan. Pada 2017, meluncurkan buku foto berjudul: Pelangi di Timur Tengah untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi di masyarakat. Dia juga mencintai dunia tulis menulis, mendapatkan penghargaan dari Uni Eropa karena karya jurnalistiknya dinilai telah memperjuangkan semangat keberagaman dan anti-diskriminasi. Kini, Denty berkarya sebagai jurnalis olahraga di harian KOMPAS.