IRONI SEKOLAH KAMI
Rommy Pujianto, Media Indonesia

Sejak tahun 2008, diputuskan bahwa 20% dana APBN Indonesia dialokasikan untuk pendidikan. Ini merupakan persentase terbesar selama sejarah pendidikan di nusantara. Tahun 2011 tercatat sebesar 246 triliun rupiah, jumlah yang terkesan fantastis namun belum berpengaruh signifikan bagi perkembangan pendidikan nasional.

Contoh kasat,ata adalah bangunan sekolah. Dari data Kementerian Pendidikan Nasional 2011 tercatat 187.855 dari total 895.761 ruang kelas bangunan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia masuk kategori rusak dan tidak layak.

Bila siswa SD se-Indonesia di tahun 2011 diestimasi sebanyak 31 juta, berarti 6,5 juta anak belajar setiap harinya di ruang kelas dengan kondisi memprihatinkan. selain kegiatan belajar mengajar menjadi tidak optimal, berisiko pula membahayakan keselamatan siswa.

Gedung sekolah rusak dan tidak layak terpaksa masih digunakan karena tidak ada tempat lain. Semakin ironis bisa lokasi sekolah berada tidak jauh dari Ibu Kota Jakarta: tempat berputar uang terbanyak; tempat ngantor para pejabat, penguasa, dan pemegang kebijakan. Lantas bagaimana nasib sekolah di daerah-daerah yang lebih jauh dari Ibu Kota, yang harus menyeberangi lautan atau terbang berjam-jam untuk mencapainya?