RAPOR [bukan] PENENTU PRESTASI
Safir Makki, Jakarta Globe

Tujuan belajar pada hakikatnya adalah menguasai ilmu, materi, keterampilan. Seberapa jauh tujuan belajar tersebut dapat dicapai oleh seorang siswa, idealnya harus dapat dimonitor melalui data kuantitatif dan kualitatif yang tertera di rapor atau buku laporan hasil belajar siswa.

Data kuantitatif yang tertera di rapor merupakan data berupa angka yang mencerminkan seberapa besar nilai prestasi siswa dalam menguasai materi pelajaran. Sedangkan data kualitatif merupakan data keterangan yang menjelaskan bagaimana sikap dan cara kerja siswa dalam mencapai prestasinya tersebut.

Ranking sebagai salah satu bentuk data kuantitatif yang tertera di rapor, dapat menunjukkan posisi atau urutan prestasi seorang siswa dibandingkan dengan prestasi keseluruhan siswa dalam kelas atau sekolahnya.

Psikolog Dra. Adriani Purbo, Psi., MBA berpendapat bahwa penekanan pada prestasi akademis semata berupa ranking yang selama ini dilakukan, memiliki beberapa kelemahan. Penentuan ranking cenderung mengabaikan prestasi non-akademis yang dimiliki siswa. Anak dengan ranking tinggi atau dianggap pintar, bisa saja sebenarnya memiliki kekurangan dalam bidang non-akademis. Sebaliknya, seorang anak ranking rendah atau dianggap tidak pintar, belum tentu tidak memiliki keunggulan atau kelebihan.

Kelemahan lain adalah kecenderungan pemberian label pada anak. Siswa dengan ranking baik (misalnya 5 atau 10 besar), secara tidak langsung ‘dicap’ pintar sehingga bukan tidak mungkin akan membuat anak sombong. Sementara anak yang mendapat ranking rendah akan menjadi rendah diri. Pemberian ranking pun bisa membuat sebagian anak tertekan atau stres karena merasa bersaing dengan teman-temannya.