HORMAT GRAKKK!
Rosa Panggabean, LKBN Antara

Upacara bendera merupakan bagian dari upaya negara untuk mengontruksi identitas sebagai warga negara atau memperkukuh identitas kolektif sebagai bangsa.

Di dalam upacara bendera terdapat elemen-elemen bendera, lagu nasional, pembacaan teks Pancasila, serta UUD 1945, dan tata caranya dibuat seragam agar mereka yang mengikuti upacara merasa sebagai warga negara atau menjadi bagian dari kolektivitas yang disebut negara-bangsa.

Guru mengatakan, upacara bendera diselenggarakan dengan tujuan untuk mendidik siswa menjadi disiplin, mengingatkan siswa pada perjuangan pahlawan nasional merebut kemerdekaan. Sebuah upaya menumbuhkan nasionalisme namun sayangnya kebanyakan siswa tidak memahaminya. Bagi Aditya, upacara adalah perintah untuk menghadap ke bendera. Bagi Adelia, yang sempat terkena giliran sebagai pembawa bendera, untuk melatih siswa tertib dan percaya diri.

Usai Reformasi 1998, tidak semua sekolah intensif menyelenggarakan upacara setiap hari Senin. Ada yang hanya melakukannya di awal bulan atau di hari-hari besar nasional semata.

Baru-baru ini, Kementerian Pendidikan berencana mewajibkan kembali institusi sekolah di semua jenjang pendidikan menyelenggarakan upacara bendera secara periodik mulai tahun ajaran 2011/2012. Kewajiban tersebut akan diatur lewat Peraturan Menteri Pendidikan mulai tahun ajaran 2011/2012.

Menurut praktisi pendidikan, Arief Rachman, pendekatan struktural untuk menumbuhkan nasionalise, patriotisme dan rasa bangga serta cinta kepada Tanah Air lewat mata pelajaran, ritual, dan upacara bendera memang penting. Namun yang sifatnya instruksi atau wajib tidaklah langgeng dalam jiwa anak. Ia menambahkan bahwa yang tidak boleh dilupakan pula ialah pendekatan kultural yang mampu memberi pengalaman emosional dan sosial kepada siswa.


Rosa Panggabean

Ia menjadi pewarta foto Antara pada tahun 2009-2018. Sempat mengecap pendidikan fotografi nonformal Kursus Dasar Pewarta Foto Antara, Permata Photojournalist Grant 2011, Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2014, dan Angkor Photo Workshop 2015. Pernah meraih sejumlah penghargaan seperti Anugerah Adiwarta dan Anugerah PFI. Ia mengerjakan hal-hal yang menjadi ketertarikan pribadinya, yaitu identitas. Salah satu projeknya telah diterbitkan dalam buku foto bertajuk Exile.