DOWN SWAN
Dita Putri, Jawa Pos

Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan oleh kelainan kromosom, yaitu ketika sepasang kromosom gagal memisahkan diri saat pembelahan.

Bagi Luisa Nadya Rafael Tanjaya, terlahir dengan down syndrome bukan berarti tidak bisa berprestasi seperti teman-temannya yang normal. Gadis yang masih tampak mungil di usia 15 tahun ini menemukan kecintaan pada balet, tarian lembut nan indah dari Eropa. Sejak usia lima tahun, dia sudah mulai belajar menari.

Terlepas dari keterbatasan fisiknya, Nadya tak pernah jera mempelajari tarian anggun berbasis teknik en pointe, keseimbangan badan bertumpu pada ujung kaki. Gerakan ini secara umum sulit dilakukan, terlebih bila jarak antara jemari kaki lebar-lebar seperti milik Nadya.

Menari kelompok bukan buat Nadya. Toleh kanan, toleh kiri, sudah jadi kebiasaan saat ia harus berkoordinasi dengan penari lain. Namun, Nadya hebat berimprovisasi ketika menari solo. Senyum manisnya selalu mengembang saat pentas. Dibalut kostum tutu bermanik, hiasan bunga cantik di gelungan rambut hitamnya … swan princess Nadya siap beraksi!

Itu semua tak lepas dari kegigihan sang bunda, dr Ninik Pujiastutik, yang senantiasa mendampingi buah hatinya. Sejak mengetahui Nadya suka menari-nari sendiri ketika mendengar instrumen pengantar balet, Ninik langsung mengarahkan sang putri menekuni tarian yang membutuhkan kondisi fisik super prima tersebut. Ia tak pernah berhenti memberi semangat, dorongan serta fasilitas agar Nadya bisa berlatih. Nadya cukup sering tampil dalam pementasan balet di Surabaya.