TAWURAN: PENCARIAN IDENTITAS YANG ABSURD
Yoppy Pieter, Jalan-Jalan

Di tahun 2011 tercatat 1.318 siswa pelajar tingkat SD, SLTP, dan SMU/SMK terlibat aksi anarkis di DKI Jakarta (Data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta).

Terdidik, beretika, dan menjunjung tinggi moralitas. Inilah sekelumit gambaran ideal mereka yang memiliki titel pelajar.

Semua impian ini kandas sia-sia saat mereka memutuskan bertransformasi menjadi monster anarkis yang tak berpikir panjang untuk baku hantam.

Dalam fase kosong, rapuh, tanpa pijakan moral dan etika, mereka berjalan menuju cul de sac gelap. Terjejali doktrin yang menomorsatukan otot untuk menyelesaikan masalah.

“Pencarian identitas,” dalih Umar, salah satu mantan siswa partisipan tawuran.

Sampai detik ini, tawuran pelajar masih menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) besar di dunia pendidikan nasional.


Yoppy Pieter

Yoppy mulai tertarik menggunakan kamera saat bekerja di perusahaan penerbit. Ia kemudian memutuskan untuk mengikuti workshop fotografi di PannaFoto Institute. Sejak saat itu, Yoppy telah terpilih menjadi salah satu peserta program Permata PhotoJournalist Grant (2011), Angkor Photo Workshop (2012), penerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam (2015), penerima South-East Asia & Oceania 6x6 Global Talent Program yang diselenggarakan oleh World Press Photo Foundation (2017), dan menjadi fotografer Indonesia pertama yang terpilih untuk mengikuti Joop Swart Masterclass yang diselenggarakan oleh World Press Photo Foundation (2019). Pada 2014, ia bersama dua rekan fotografernya, Muhammad Fadli dan Putu Sayoga, mendirikan Arka Project. Karyanya telah dipamerkan di Jakarta Photo Summit #3 (2014) dan Jakarta Biennale 2015, serta diterbitkan dalam buku Saujana Sumpu (2016).