Dibalik Kota Yang Rehat

Andri Widiyanto (Media Indonesia, Jakarta)

Jakarta yang sebelumnya tak pernah tidur, kini lengang, bahkan ditengah hari sekalipun. Stasiun MRTjadi sesyahdu taman kota.Di hari normal, ketenangan itu tentuakan terasa menyenangkan bagi kaumurban yang kenyang dengan bisingnyajalanan. Namun, pandemi membuat semuanya tidak bisa dinikmati.

Kesadaran untuk melindungi diri telah membuat banyak warga rela berdiam di rumah. Terlebih setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan persetujuan Menteri Kesehatan, menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak Jumat (10/4). Kegiatan di tempat publik yang memang sudah berkurang sejak 16 Maret pun semakin minim. Maka, gambarannya ialah kota yang menikmati dirinya sendiri.

Meskipun demikian, tetap saja di tengah alam yang bersorak ada manusia-manusia yang terus berjibaku di jalanan. Kebutuhan perut membuat mereka tak punya pilihan. Inilah kelompok yang tidak terjamah oleh segala skema bantuan pemerintah terkait dengan pandemi covid-19. Bagi para pedagang asongan, penjaja warung tenda, ataupun pekerja lepas lapangan lainnya, kehidupan kota tak pernah berubah. Baik di kala sibuk maupun lengang, Jakarta tetaplah ibu kota yang keras.


Andri Widiyanto

Andri Widiyanto menekuni dunia fotografi sejak 2011, saat menempuh pendidikan Program Studi Fotografi di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) di Jakarta. Tugas akhirnya yang berbentuk karya dokumenter yang berjudul Pijar Ciptagelar ditampilkan dalam pameran ‘Visualektika’ (Jakarta, 2016). Ia kini bekerja sebagai pewarta foto di harian nasional Media Indonesia. Bagi Andri, profesi pilihannya ini adalah salah satu cara menjadi bagian dari sejarah.