Wanita Tangguh di Jantung Kota Yogyakarta

Fanny Kusumawardhani (Fotografer Lepas, Jakarta)

Di tengah hiruk-pikuk keramaian Pasar Beringhajo, Yogayakarta terdapat wanita-wanita tangguh yang siap membantu para pengunjung untuk membawakan barang bawaan mereka. Bermodalkan kain lurik yang melekat di bahu dan kekuatan tubuh, para wanita tangguh ini siap menawarkan jasa angkut kepada para pelanggan.

Menyusuri lorong-lorong, menaiki hingga menuruni anak tangga, dengan beban berpuluh-puluh kilo di punggung dan buliran keringat yang bercucuran seakan tak menyurutkan niat mereka untuk mengais rejeki.

Para wanita tangguh ini rata-rata sudah memasuki usia yang tak muda lagi, dengan tubuh rentanya mereka masih sanggup untuk mengangkat beban hingga 60 kg dalam sekali angkut.

Beras, kacang, gula aren, hingga barang belanjaan lainnya pun sanggup mereka ‘gendong’.

Dengan upah seikhlasnya, mereka bisa menghasilkan uang mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 60 ribu rupiah dalam sehari, “Ndak tentu, seikhlasnya yang ngasih saja” ujar Mbah Sariyem (75), salah satu wanita tangguh yang sudah 45 tahun menggeluti pekerjaan ini.

Pegal-pegal di seluruh tubuh seakan sudah tak dirasa lagi. Mobil angkutan ‘kuning’ langganan pun siap mengantarkan para wanita tangguh ini melintasi jarak berpuluh-puluh kilo dari Kabupaten Kulon Progo menuju Kota Yogyakarta.

Pulang pergi Kulon Progo-Pasar Beringharjo di setiap harinya sudah menjadi rutinitas Mbah Sariyem dan wanita tangguh lainnya.

Tuntutan ekonomi dan keperluan keluarga yang harus dipenuhi membuat para buruh gendong seakan mengabaikan beban yang dipikulnya.  Upah yang tidak seberapa, dengan mengorbankan kesehatan mau tidak mau harus mereka jalani demi asap dapur tetap mengepul.


Fanny Kusumawardhani

Fanny Kusumawardhani lahir di Majalengka pada (1993). Ia mengenal fotografi sejak 2012 saat menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta dan lulus pada tahun 2016. Fanny mengawali kariernya sebagai fotografer jurnalistik di salah satu media online di Jakarta pada 2016 hingga pertengahan 2020. Saat ini ia bekerja sebagai fotografer lepas di Jakarta dan menekuni isu sosial, budaya, dan lingkungan. Baginya, fotografi menjadi jembatan untuk melihat dunia, juga mengenal berbagai tipe manusia.