Udara Bahaya, Anak Sekolah Diliburkan

Abriansyah Liberto (Tribun Sumsel (Tribun Network) – Palembang)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi, seakan sudah menjadi bencana rutin setiap tahun. Kebakaran ini dikarenakan pembukaan lahan dengan cara membakar.

Sepanjang tahun 2019, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan mencapai 257,9 hektare yang tersebar dari Enam Kabupaten/Kota. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat Kabupaten Ogan Ilir wilayah terparah yang terkena Karhutla dengan luas lahan 121,15 hektare yang terbakar.

Pemadaman dilakukan dari udara dan darat tetapi dikarenakan area gambut sehingga pemadaman sangat sulit. Sedikitnya empat helikopter water bombing dan satu pesawat patroli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selain itu, sekitar 1.512 Satuan Petugas (Satgas) Karhutla juga disiagakan di Sumsel.

Kebakaran hutan dan lahan ini menyebabkan Kabut asap tebal menyelimuti Palembang. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan menyebut kabut asap ini menjadi yang terekstrem di tahun 2019. Tercatat Senin (14/10/2019) pagi jarak pandang terendah berkisar antara 50-150 meter dari pukul 06.30-08.30 WIB dengan kelembapan pada saat itu 95-96% dengan keadaan cuaca asap.

Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrem selama berlangsungnya karhutla dengan indikasi kuantitas dan jarak pandang yang terjadi.

Sehingga kegiatan belajar mengajar di tingkat PAUD, TK, SD dan SMP diliburkan hingga udara kembali membaik.


Abriansyah Liberto

Abriansyah Liberto memulai karier sebagai pewarta foto lepas di media lokal saat duduk di bangku perguruan tinggi pada 2009. Lulusan Universitas Sriwijaya, Jurusan Teknik Elektro ini memiliki ketertarikan terhadap isu sosial dan lingkungan. Saat ini, ia bekerja di Media Tribun Sumsel (Tribun Network) sebagai wartawan foto. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Adinegoro Award (2015), Photo Of The Year dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2015) dan Juara II Kategori Lingkungan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2018). Ia juga pernah mengikuti pameran foto bertajuk ‘Mencegah Bara’ (2015) dan ‘Membangun Indonesia’ (2019). Bagi laki-laki yang akrab disapa Berto ini, fotografi jurnalistik bukan hanya sebuah gambar yang indah dan menarik, tetapi juga mampu membangkitkan empati bagi audiensnya.