COKEK, SANG PENGHIBUR
Anggara Mahendra, Kontributor Bali Buzz (The Jakarta Post Group)

Pada 1940-1n, cokek merupakan hiburan yang hanya bisa dinikmati oleh kelas menengah ke atas di Cina Benteng, Tangerang, Banten. Kini, semua orang bisa menikmatinya karena ada proses adaptasi, efek dari modernisasi dan pembatasan hal-hal bernuansa Tionghoa lewat Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 di zaman Orde Baru.

“Cokek” berasal dari istilah Tionghoa dialek Hokkian Selatan yaitu chiou-khek. Chiou: “menyanyi”, dan khek, sejenis lagu dalam budaya Hokkian. Kesenian perpaduan Betawi dan Tionghoa ini selalu tampil berbarengan dengan gambang kromong sebagai pengiring musik.

Cokek menyanyikan lagu-lagu Dalem (berbentuk pantun dalam bahasa Melayu) dan lagu Sayur (biasa digunakan untuk berjoget). Saat itu, cokek menjadi salah satu simbol status sosial bagi para pemimpin masyarakat Tionghoa, sehingga tidak sembarang orang berani mendekati sang wayang.

Hingga kini, kesenian hiburan masyarakat Cina Benteng ini tetap ada, tetapi dengan bentuk yang baru. Grup Gambang Kromong, bersama cokek, mendapatkan tempatnya saat memeriahkan acara di rumah kawin (gedung yang disewakan untuk ciotao atau pernikahan dalam tradisi Cina Benteng).

Gitar listrik, keyboard, dan pengeras suara berukuran besar menjadi penanda masuknya modernisasi untuk beradaptasi dengan selera masyarakat yang berubah, di tengah banyaknya hiburan bentuk baru yang memanfaatkan media-media yang sangat personal seperti ponsel. Biduan menggantikan cokek untuk menyanyikan lagu-lagu gambang hingga dangdut, sedangkan cokek ngibing bersama para tamu yang hadir.

Sementara itu, Herlina Syarifudin, sutradara, penulis naskah, dan seniman teater, mencoba merangkum cerita cokek dalam karya monolog berjudul “Tumbal Dewi Cokek”.

“Saya memiliki kecenderungan untuk tertarik pada kesenian tradisional yang mulai sirna terkikis zaman dan pengaruh dari budaya luar. Minimal, saya menyimpannya sebagai bagian dari catatan perjalanan kesenian saya di teater untuk bekal cerita pada anak-cucu nanti,” ujar Herlina yang mendedikasikan karyanya untuk almarhumah Mak Masnah, maestro cokek yang meninggal pada usia 90-an pada 2014.


Anggara Mahendra

Anggara tertarik pada dunia jurnalistik ketika menjadi reporter, penyiar, dan produser di Hard Rock Radio Bali (2008). Membuat catatan visual adalah hobi yang dikerjakannya hingga 2012 saat menjadi kontributor foto Bali Buzz (The Jakarta Post Group).

Baginya, cerita visual adalah cara untuk membantu mengingat peristiwa yang pernah terjadi, sekaligus menceritakan perubahan masif yang terjadi di Bali. Ketertarikan ini berhasil membuatnya menjadi peserta lokakarya foto oleh John Stanmeyer, Ubud, Bali (2012).

Saat ini, Anggara mendedikasikan waktu luangnya bepergian sendiri dengan motor klasiknya dan melihat dunia dari berbagai perspektif.