PEWARIS TAKHTA NAKHODA PINISI
Syamsudin Ilyas, Rakyat Merdeka

Sudah 45 tahun Muhammad Basso menjadi seorang nakhoda Perahu Layar Motor (PLM) Pinisi. Berbagai jenis kapal layar tradisional sudah ia nakhodai, dari jenis pinisi, lepa-lepa, padewakang, hingga jenis pinisi lambo yang saat ini mendominasi angkutan barang di Nusantara.

Pria berperawakan kecil ini dilahirkan 70 tahun silam, di sebuah desa tempat asal pinisi dibuat, yakni Desa Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ilmu yang didapat merupakan hasil pembelajaran semasa muda ketika menjelajah dari pulau ke pulau bersama para awak lainnya.

“Tidak mudah untuk bisa menjadi nakhoda kapal layar pinisi. Selain harus bisa membaca petunjuk alam, seorang nakhoda harus memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Itu dipelajari langsung ketika berada di laut lepas,” ujar Puang Basso, yang pernah menjuarai Arung Samudra dengan Pinisi Nusantara-nya pada 1995.

Lahir di tengah kehidupan para pelaut menjadikannya sosok yang tabah dan kokoh. Meskipun usianya telah mencapai 70 tahun, Puang Basso tidak patah semnagat untuk membagi ilmunya kepada awak lain yang ingin menyerap pengalamannya.

Menurutnya, ilmu yang dipelajari selama ini merupakan hasil terpaan ketika menghadapi kerasnya lautan. “Bombang loppo fada bullu’ napappadai sahabatnu. Aja mu’pa’sai, cowerikki elo’na,” yang artinya, “Ombak dan badai adalah sahabat. Jangan dilawan, tapi ikuti ke mana arahnya haluan,” terang Puang Basso yang masih kekar memegang kemudi dalam pelayaran dari Sunda Kelapa, Jakarta menuju Pontianak, Kalimantan Barat.

Dari tangannya, telah banyak lahir nakhoda-nakhoda muda yang dapat diandalkan. Rata-rata, mereka tidak memiliki pendidikan tinggi. Untuk bisa menjadi seorang nakhoda pinisi, semua ilmu yang didapat merupakan warisan dari generasi ke generasi. Ilmu alamlah yang mengajarkan mereka untuk bisa bertahan hidup di tengah gempuran ombak dan badai.

Tidak ada ritual khusus untuk menjadi nakhoda kapal pinisi. Secara naluriah, mereka sudah bisa dilepas untuk menjadi seorang kapten jika sudah mampu menguasai arah mata angin dan ilmu perbintangan.

Di tengah arus modernisasi alat transportasi laut yang semakin berkembang, di mana kapal-kapal dagang dan nelayan saling berlomba untuk mempercepat laju dan teknologi pelayarannya, proses regenerasi nakhoda pinisi tetap berjalan, memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga bagi generasi baru yang akan menggantikan posisi kapten kapal.

“Meskipun layar telah berganti mesin, kemudian telah berubah menjadi hidrolik, selama masih ada ombak dan angin kami akan terus mewariskannya kepada generasi mendatang,” ungkap M. Basso.


Syamsudin Ilyas

Putra Bugis kelahiran Jakarta ini mengenal fotografi pada 2010 sewaktu belajar di Komunitas Galeri Bau Tanah dan Kelas Pagi Jakarta. Kecintaannya terhadap dunia fotografi membuatnya bergabung di Galeri Foto Jurnalistik Antara pada 2013.

Ilyas menjadi reporter yang juga mendapat penugasan memotret di Rakyat Merdeka Group sejak 2014.

“Ombak dan badai adalah sahabat. Jangan dilawan, tapi ikuti ke mana arahnya haluan, pasti kamu akan sampai ke tujuan.” Itulah petuah yang dia ingat dari dua kali mendokumentasikan kehidupan para pelaut di laut lepas dengan kapal layar pinisi.