Anak Maluku

Agoes Rudianto (Fotografer Lepas, Jakarta)

Pada tahun 1951, sekitar 12.500 orang Maluku diangkut dari Jawa ke Belanda. Mereka kebanyakan adalah prajurit yang pernah bertugas sebagai tentara kolonial Belanda (KNIL), beserta keluarga mereka. Setelah pengalihan kedaulatan dan pembubaran KNIL, tentara Indonesia, Belanda dan Maluku tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai lokasi demobilisasi. Akhirnya, diputuskan untuk memindahkan orang-orang Maluku ini untuk sementara ke Belanda. Bagi sebagian besar, ternyata mustahil untuk kembali.

Setelah lebih dari enam puluh tahun setelah kedatangan 12.500 orang Maluku ke Belanda, komunitas Maluku Belanda tampaknya berada di Belanda untuk selamanya. Kini mereka memiliki tanggungjawab untuk menyeimbangkan warisan budaya dan sejarah nenek moyang mereka dengan tuntutan kehidupan di dunia Eropa yang kompleks, multi-etnis, kebarat-baratan seperti Belanda, sebuah tugas yang dihadapi oleh generasi muda dari semua banyak kelompok imigran Belanda.

Ada minat yang bangkit kembali di antara generasi kedua dan ketiga Maluku untuk mengetahui dan memelihara budaya asli mereka. Mereka mencoba untuk menyimpan kenangan tentang asal usul leluhur mereka melalui tato, lukisan dan foto alami dari desa mereka dan berbagai barang tradisional. Di komunitas, mereka memilih untuk menggunakan bahasa ibu daripada bahasa Belanda atau Inggris untuk mempertahankan ikatan budaya.


Agoes Rudianto

Agoes menyelesaikan studi Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret, Solo, pada 2011. Mulai menekuni fotografi saat bergabung dengan UKM Fisip Fotografi Club (FFC) di kampus. Setelah lulus kuliah, ia bergabung dengan salah satu media cetak lokal selama tujuh tahun. Dalam tiga tahun terakhir, ia aktif berkontribusi sebagai fotografer pada Kantor Berita Turki. Ia mengikuti berbagai pameran, salah satunya yang diselenggarakan di The Museum of Drug Policy di New York, Amerika Serikat.