Mengulas dan Menyunting Tulisan untuk Esai Foto

“Belajar menulis itu sama seperti orang belajar naik sepeda,” kata Budi Setiyono, wartawan dan Redaktur Pelaksana Historia.id, mengawali kelas penulisan narasi sesi dua sambil menunjukkan ilustrasi orang yang tengah belajar naik sepeda di layar zoom meeting, Selasa, (19/1/2021). Jika pada sesi pertama para peserta mendapatkan pengetahuan seputar teori menulis, kali ini tulisan yang telah mereka kerjakan selama satu minggu diulas satu per satu oleh mentor tamu tersebut.

Budi mengumpamakan bahwa belajar menulis sama seperti belajar naik sepeda. Satu-satunya cara paling tepat adalah mencoba. Mungkin kita bisa memperoleh penjelasan langkah-langkah naik sepeda di YouTube, namun hal itu akan menjadi percuma jika tidak dibarengi dengan praktik secara langsung.

Dalam prosesnya, kita akan terjatuh, lalu bangkit dan mencoba lagi, dan seterusnya. Di samping itu, kita juga butuh dorongan dari orang yang lebih berpengalaman. Kalau dalam proses penulisan, kita akan membutuhkan seorang teman yang sudah terlatih dalam menulis atau seorang editor untuk mendorong kita agar terus maju dan mencoba.

“Teori itu sebetulnya hanya dipakai sekian persen saja. Dalam menulis yang lebih penting itu praktiknya. Kalau kita selalu mengingat-ingat kembali teorinya, justru hal itu akan membelenggu kita, membuat kita tidak merasa lepas ketika menulis,” tambah Budi.

Aturan dasar dalam menulis hanya ada dua, yaitu membaca dan menulis. Jika tidak pernah membaca, kita tidak akan mendapatkan topik-topik yang menarik dan tidak bisa memperdalam tulisan yang dibuat. Oleh sebab itu, selain memperoleh perspektif baru, dengan membaca kita juga akan tahu bagaimana cara menyusun kalimat dan memilih kata. Setelah kebiasaan membaca terbentuk, maka dorongan untuk menulis pun akan muncul.

“Kalau di kalangan wartawan atau penulis itu kan ada istilah ‘banyak tahu meskipun sedikit’. Jadi bacaan apa saja saya lahap,” tutur Budi.

Menulis merupakan proses yang panjang. Bahkan Budi mengakui, ia menganggap dirinya masih dalam tahap belajar menulis. Proses menulis itu selalu berkembang. Jika hari ini kita membaca ulang tulisan beberapa tahun lampau, perspektif dalam tulisan tersebut niscaya akan usang dan berbeda.

Sepanjang proses penulisan, kita jangan sampai melupakan aspek lain yang tak kalah penting yaitu kegiatan menyunting. Budi mewanti-wanti, penulis yang baik pada hakikatnya selalu menjadi editor yang baik bagi dirinya sendiri.

Selama kurang lebih tiga jam kelas berlangsung, Budi membedah satu per satu naskah yang sudah dikerjakan oleh para peserta. Peserta diminta untuk membacakan tulisannya dan dilanjutkan dengan proses penyuntingan. Secara umum, kekeliruan bahasa yang kerap dijumpai yaitu, salah tik, penggunaan tanda baca yang kurang tepat, Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang belum diterapkan, pilihan kata yang kurang akurat, hingga logika kalimat yang rancu.

Dalam setiap sesi penyuntingan, peserta mengutarakan tentang kesulitan-kesulitan saat proses menulis. Salah satunya Nita Dian Afianti, pewarta foto Tempo, yang akan kesulitan menulis jika tidak menemukan poin-poin penting untuk paragraf pembuka penutup. Sebagai informasi, poin paragraf pembuka lazim disebut lead. Sejatinya, lead yang baik akan membuat pembaca tertarik untuk menuntaskan cerita dari awal sampai akhir.

“Aku itu tipe orang yang kalau nulis harus tahu depannya. Jadi selama depan dan akhir tulisannya belum ketahuan, biasanya cerita akan melebar ke mana-mana. Kalau sudah tahu, biasanya lebih lancar menulis,” kata Nita.

Perihal ini, Budi juga mengingatkan tentang pentingnya membuat kerangka dan struktur cerita terlebih dahulu. Tujuannya agar ide-ide yang acak bisa tersusun rapi dan tidak menyulitkan kita ketika menulis. // Rizka Khaerunnisa


Photo Editing 3: Menyusun Cerita Foto dengan Metode Sequencing

Dalam gambar: foto karya Nita Dian Afianti (Tempo, Jakarta)

Jumat, (15/1/2021), pelatihan fotografi, rangkaian program Permata Photojournalist Grant (PPG) 2020 memasuki sesi kedelapan. Kelas dibagi menjadi dua babak. Pada babak pertama, peserta dipecah menjadi dua kelompok kecil. Masing-masing kelompok dibimbing oleh mentor Rosa Panggabean dan Yoppy Pieter. Bersama para mentor, setiap peserta menyeleksi dan memilih 15 foto (minimal) dari empat puluh lima foto yang diajukan.

Pada babak kedua, seluruh peserta bergabung kembali dalam satu room. Di tahap ini, Edy Purnomo memaparkan materi tentang Photo Sequencing.

“Mengapa membuat sequencing di editing ketiga? Tujuannya agar peserta tahu, pertama kira-kira ceritanya mau dibawa ke mana. Kedua, bagaimana cara menyusun cerita itu. Terakhir, bagaimana menguatkan dan menambah yang kurang dari struktur yang ada,” terang Edy.

Secara garis besar metode sequencing terdiri dari tiga tahapan, yaitu clustering (pengelompokkan foto), menyusun, dan story arc.

Jika ingin mengedit foto, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengelompokkan foto-foto itu terlebih dahulu. Pengelompokkan foto mula-mula harus diseleksi berdasarkan mood visual yang ditampilkan. Tahapan ini harus memperhatikan kepaduan warna, angle, hingga visual approach (pendekatan visual) sekaligus bagaimana pendekatan visual itu digunakan.

“Jangan sampai belang secara mood visual karena hal ini akan mengganggu banget dalam proses editing nanti. Misalnya, kalau kebanyakan warna-warna [red: dalam fotonya] blues atau biru, tiba-tiba muncul satu foto yang warnanya putih sendiri. Itu kalau tidak diperlukan, ya tidak usah dipakai. Meskipun terkadang ada yang memakai itu,” ujar Edy.

Edy mengibaratkan ihwal mood visual ini sama seperti cara kita mendengarkan musik. Melodi dalam musik setidaknya harus selaras dan berirama. Ketika tiba-tiba muncul satu nada yang menyimpang, musik akan terdengar aneh di telinga. Begitu pula dengan cerita foto. Rangkaian dari satu foto menuju foto yang lain harus selaras.

“[Memang] secara teori, tak ada aturan baku. Tetapi, nanti ketika kita melihat visual secara keseluruhan, kita baru bisa merasakan bagaimana cerita punya flow, bagaimana satu foto dengan foto lainnya punya keterkaitan berdasarkan mood-nya. Konten pada akhirnya bisa mengikuti asalkan mood visual-nya sama.”

Setelah mood visual dapat ditangani secara baik, baru bisa menyeleksi foto berdasarkan konten atau isi cerita dan dilanjutkan dengan menyusun foto secara berurutan.

Agar susunan cerita foto padu dan utuh, diperlukan kerangka story arc. Setidaknya ada tiga bagian dalam story arc yang dimulai dengan exposition sebagai pembuka cerita. Kemudian cerita mulai bergerak sampai pada klimaks dan ditutup dengan resolution.

“Kunci dari editing [sebetulnya] teman-teman harus menanamkan di dalam kepala bahwa editing itu bukan kumpulan foto-foto bagus,” tambah Yoppy di sela-sela diskusi.

Meski pada akhirnya foto dituntut harus bagus, namun hakikat cerita foto tak sekadar demikian. Yang paling penting adalah keterkaitan antara satu frame ke frame berikutnya.

Yoppy juga mengatakan bahwa fotografer harus membuang jauh egonya saat masuk dalam proses editing.

“Saya bisa paham banget, misalnya ada fotografer bilang seperti ini, ‘foto ini harus masuk karena gue susah banget motretnya, gue harus manjat tebing, gue harus jatuh dari motor…’ Orang di luar sana tidak peduli dengan hal itu. Yang saya peduli adalah apakah foto ini nyambung dengan cerita dalam tatanan frame-frame yang kalian tampilkan. Jadi buang jauh-jauh ego itu,” jelas Yoppy lagi.

Di akhir sesi, para mentor meminta agar peserta menyusun pokok cerita, maksimal dalam 3 kalimat. Proses ini akan menentukan sejauh mana peserta menguasai inti cerita yang ingin diungkapkan kepada audiens. Jangan sampai cerita itu disampaikan dalam kalimat yang bertele-tele dan menyebabkan audiens gagal memahami arah cerita.

“Kalau itu tidak clear, saya yakin seratus persen teman-teman akan merasa kesulitan menyusun cerita. Apalagi kalau lebih dari tiga kalimat, teman-teman fotografer pasti akan kebingungan membuat sequencing-nya,” ujar Edy. // Rizka Khaerunnisa


Mengenal Dasar-Dasar Penulisan

Foto dan teks merupakan satu paket, melengkapi satu sama lain. Sebagai pewarta foto kedua hal ini menjadi kemampuan kunci yang harus dikuasai. Selain piawai menangkap momen menggunakan kamera, juga harus memiliki kemampuan untuk menuliskan hal-hal yang tidak dapat digambarkan dengan visual. Untuk itu, program Permata Photojournalist Grant selalu memasukkan materi penulisan ke dalam kurikulumnya. Program PPG 2020 mengundang Budi Setiyono (Redaktur Pelaksana Historia.id) untuk memberikan materi Penulisan 1 pada Selasa (12/01/2021).

Materi kelas berangkat dari penjelasan tentang bentuk-bentuk penulisan berita; Berita Lempang, Feature, dan Narasi. Pengetahuan tentang bentuk-bentuk penulisan berita memberikan gambaran konten dan struktur tulisan yang akan dibuat. Misalnya dalam Berita Lempang atau Berita Langsung, cukup berisi informasi umum seperti Apa, Kapan, dan Dimana. Sementara untuk Feature dan Narasi, bisa memberikan informasi yang lebih mendalam.

Jika dalam sesi 5: Research For Documentary Photography, mentor pada sesi itu, Saša Kralj, menekankan pentingnya untuk melakukan riset berulang kali. Di pertemuan kali ini Budi menekankan hal yang sama, riset dan observasi penting dilakukan sebagai awal persiapan penulisan. Ia juga menyampaikan wawancara tidak cukup dilakukan satu kali, harus berulang kali selain untuk mendapatkan lebih banyak informasi dari narasumber atau subyek foto, juga untuk lebih mengenal subyek foto atau narasumber.

Budi juga menyampaikan pentingnya untuk memelihara rasa ingin tahu dan skeptisme. Skeptisme artinya mempertanyakan banyak hal: Apakah sumbernya terpercaya? Apakah informasi yang didapat sudah benar?

"Penulis yang baik adalah juga editor yang baik. Kita harus membiasakan untuk menyunting tulisan kita sendiri. Pastikan tidak ada salah ketik, pastikan alur tulisan enak dibaca, jika kurang yakin mintalah orang lain untuk membaca tulisanmu," Budi berpesan.

Sunting tulisan secara mandiri menjadi salah satu bagian penting dalam penulisan. Tidak sedikit kasus penulis tidak membaca ulang tulisannya, sehingga banyak ditemukan salah tulis di sana-sini. Bahkan, ada yang lupa mencantumkan judul tulisan. // Lisna Dwi Astuti


Mendedah Makna Foto Lewat Visual Literacy

Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa pengetahuan visual tak benar-benar penting untuk dipelajari. Sejak lahir hingga dewasa, kita telah terbiasa menerima fungsi panca indera tanpa perlu dipertanyakan lagi. Sehingga muncullah anggapan bahwa kita bisa menangkap arti dan makna yang dilihat lewat mata hanya berdasarkan insting.

“Ini yang kadang pincang. Di Indonesia, Visual Literacy itu memang tidak dipelajari di sekolah-sekolah, dianggap ilmu ini tidak begitu penting. Padahal, kalau kita lihat di masa sekarang, kita hidup di era budaya visual. Coba hitung, berapa persen kita menggunakan visual dalam kehidupan sehari-hari?” Ujar Edy Purnomo, mentor PannaFoto Institute, dalam kelas daring ketujuh yang merupakan bagian dari Pelatihan Fotografi program Permata Photojournalist Grant (PPG) 2020, Jumat, (8/1/2021).

Setidaknya, Edy menyebutkan tiga poin yang perlu digarisbawahi kenapa Visual Literacy menjadi penting untuk dipelajari.

Pertama, seperti yang sudah dikatakan, sekarang kita hidup dalam era budaya visual. Apa yang kita produksi dan konsumsi, semuanya berbahasa visual. Apalagi didukung oleh media sosial, penyebaran informasi visual tentu jauh lebih cepat menyebar.

Disadari atau tidak, sesungguhnya informasi visual lebih memorable atau mudah lekat pada memori kita ketimbang informasi tekstual. Menurut Edy, 70 s.d. 85% informasi yang diserap manusia didapatkan lewat bahasa visual. Ditambah pada fakta dalam sepanjang hidupnya, manusia akan selalu mengingat memori-memori visual itu.

Kemudian poin kedua, wujud visual mempermudah cara manusia berkomunikasi. Dan yang ketiga, Visual Literacy dapat memperkaya pemahaman kita terhadap sesuatu.

Maka bagi para peserta PPG 2020 yang notabene fotografer, tak pelak bahwa pengetahuan Visual Literacy ini sangat membantu mereka untuk menggodok karya yang akan digarap.

Untuk memahami seperti apa cara membaca dan memaknai karya foto, Edy memaparkan perihal elemen-elemen visual dan teori Gestalt sebagai alat bantu membedah karya. Nantinya, bagi kreator, kedua pengetahuan itu sangat berguna untuk menciptakan imaji yang diinginkan. Sementara bagi pembaca/audiens/penikmat karya, hal tersebut memudahkan analisa seseorang ketika membangun sebuah persepsi.

“Terkadang Nopri baru sadar [red: ada] makna visual setelah memotret, apakah itu baik?” Tanya Nopri Ismi, pewarta foto Mongabay Indonesia, yang juga peserta PPG 2020.

Menurut Edy, sebetulnya harapan untuk peserta setelah mempelajari Visual Literacy ini adalah bisa membuat analisa terlebih dahulu sebelum memvisualkan ide yang ingin disampaikan. Analoginya sama seperti seseorang yang ingin membuat tulisan, setidaknya ia punya bekal teoretis dan tahu goals atau tujuan apa yang ingin dicapai. Jika seorang kreator tidak tahu cara membaca atau buta visual, pesan maupun maknanya jadi tak begitu jelas. Memang, karya itu kemungkinan besar masih bisa dibaca, tetapi tak seperti apa yang diharapkan.

Di sisi lain, Yoppy Pieter, fotografer dan Mentor PPG 2020, menambahkan bahwa sesungguhnya Visual Literacy lebih dari sekadar pre-visualisasi sebelum seseorang memotret. Dengan kemampuan Visual Literacy yang kaya, cara seseorang melihat subjek maupun objek sudah pasti berbeda.

“Jadi, mau di medan apapun, mau di kondisi apapun, ya kita sudah siap dan nggak takut lagi atau bingung mau memotret apa dan seperti apa,” ujarnya.

Pengetahuan tentang Visual Literacy pada akhirnya memegang peran vital saat mematangkan proses visualisasi, bahkan jauh sebelum karya itu diproduksi. Ia akan jadi stimulus di kepala seorang fotografer dan proses memotret pun jauh lebih mudah secara intuitif. // Rizka Khaerunnisa


Photo Editing 2: Tantangan Untuk Peserta Dalam Pengerjaan Proyeknya

Dalam gambar: foto-foto oleh Nopri Ismi (Mongabay Indonesia, Kab. Bangka Tengah)

Selamat tahun baru! Mengawali tahun baru 2021, 10 penerima Permata Photojournalist Grant (PPG) kembali bertemu dengan mentor Edy Purnomo, Rosa Panggabean, dan Yoppy Pieter pada Selasa (5/01/2021) untuk sesi VI Pelatihan Fotografi, dengan materi Photo Editing II.

Sama seperti Photo Editing I, kelas langsung dibagi ke dalam dua breaking room, kelompok Rosa dan kelompok Yoppy, masing-masing mengampu 5 peserta. Sebelumnya, masing-masing peserta telah mengirimkan 45 frame foto baru, dalam sesi ini peserta memiliki tugas untuk memilih 15 foto yang mereka anggap menarik. Lalu, bersama mentor mereka mendiskusikan foto-foto terlebih apakah kira-kira dapat digunakan dalam photo story mereka.

Usai sesi breaking room, seluruh peserta dan mentor kembali ke ruang utama untuk presentasi oleh peserta dan diskusi.

"Bagaimana menghadirkan yang tidak terlihat. Misal seperti di cerita tentang anjing oleh Christo [Johannes P. Christo - Pewarta Foto Lepas, Denpasar], bagaimana menghadirkan anjing tanpa gambar anjing secara literal. Ini adalah tantangannya," tutur Edy Purnomo dalam diskusi. Edy juga menyampaikan tantangan yang sama bagi Nopri Ismi (Mongabay Indonesia, Kab. Bangka Tengah) dan Abriansyah Liberto (Tribun Sumsel - Tribun Network, Palembang) untuk dapat menghadirkan subyek utama mereka dalam cerita tanpa gambar/foto sosok mereka secara literal, membuat audiens merasakan kehadiran subyeknya.

"Sama seperti konsep 'Harapan' yang abstrak juga," tambah Ng Swan Ti (Kepala Sekolah Program).

Hope atau Harapan dipilih menjadi tema program PPG 2020, tema ini rasanya tepat bagi situasi dan kondisi dunia yang saat ini berada di tengah pandemi. Kesepuluh peserta diharapkan dapat memberikan cerita-cerita yang menginspirasi dan memberikan pesan dan semangat bagi audiens yang menikmati karya-karya mereka nantinya. Tantangannya adalah bagaimana agar audiens dapat menangkap pesan ini dari melihat-melihat photo story mereka. Untuk mencapai itu, masih ada 9 sesi pertemuan yang harus diikuti oleh peserta untuk berproses dalam pelatihan ini dan menghasilkan karya-karya yang tidak hanya menarik tapi juga memiliki pesan yang kuat. // Lisna Dwi A.


Riset Proyek Fotografi Bersama Sasa Kralj

Saša Kralj, fotografer dan co-founder Živi Atelje DK di Zagreb, Kroasia. Saša telah menjadi bagian dari program Permata Photojournalist Grant sejak penyelenggaraan pertama PPG pada tahun 2011. Di tahun kesepuluh, sepuluh peserta PPG 2020 bertatap muka dengan Saša melalui layar laptop pada hari Jumat (22/12/2020) untuk mendengarkan penyampaian materi bertajuk Research For Documentary Photography.

Dalam sesi ini Saša memaparkan terdapat lima level penelitian dalam sebuah proyek fotografi yang harus dilakukan secara berkesinambungan, yakni descriptive level, representative level, intimate level, implication level, dan purpose level. Kelima level ini untuk memahami dan mengenal secara mendalam cerita dan subyek foto dari proyek fotografi yang sedang dikerjakan.

Setelah pemaparan singkat, Saša membagi peserta ke dalam beberapa grup untuk berdiskusi tentang pemahaman mereka atas materi yang baru saja disampaikan Saša terkait General Knowledge dan bagaimana mereka mengaplikasikan pengetahuan itu di dalam Mind Map mereka masing-masing.

"Mind Map bukan lah berisi hal-hal yang kamu ketahui, melainkan tentang hal-hal yang memerlukan riset lebih lanjut. Jika Mind Map hanya berisi pemaparan hal-hal sudah kamu ketahui, berarti ceritamu bermasalah. Kalian harus selalu memiliki pertanyaan yang belum terjawab dalam Mind Map kalian," tutur Saša. Semakin banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban, semakin besar riset yang perlu dilakukan, dengan demikian peserta diharapkan dapat semakin masuk dan memahami cerita mereka masing-masing.

Saša menekankan peserta bahwa riset tidak cukup dilakukan sekali saja, ia menawarkan siklus kerja dalam penyusunan proyek fotografi, dimulai dengan menemukan ide cerita yang akan diangkat - riset - memotret - edit (melihat dan memilah foto-foto yang sudah diambil) - kemudian riset lagi - memotret lagi - edit lagi - riset lagi dan begitu seterusnya. Dapat dikatakan, fotografer pun harus mampu mengkritisi foto-foto mereka, mempertanyakan diri seberapa mereka memahami permasalahan dalam cerita yang sedang mereka kerjakan. // Lisna Dwi A.


Photo Editing 1: Melihat Foto-Foto Pertama Peserta PPG 2020

Pelatihan Fotografi program Permata Photojournalist Grant (PPG) 2020 memasuki pertemuan keempat dengan materi Photo Editing 1, (18/12/2020). Selama pelatihan ini, kesepuluh penerima program akan melalui empat sesi Photo Editing. Sebelum setiap sesi Photo Editing, peserta diminta untuk mengirimkan 45 frame foto terpilih dari seluruh foto yang telah mereka ambil dalam pengerjaan proyek foto masing-masing. Dari 45 frame tersebut, mereka kemudian diminta untuk memilih 15 frame yang mereka anggap menarik dan dapat digunakan dalam photo story mereka.

Kelas dibagi ke dalam dua ruang, 5 orang dengan bimbingan mentor Rosa Panggabean (Fotografer Lepas) dan 5 orang dengan bimbingan mentor Yoppy Pieter (Fotografer Lepas). Di dalam kelas tersebut, masing-masing peserta mendapatkan waktu sekitar 15 menit untuk mendiskusikan foto-foto yang mereka ambil. Mentor menyampaikan pendapat dan masukkan atas frame-frame yang dikirimkan oleh para peserta.

60 menit berlalu, seluruh peserta dan mentor kembali ke ruang utama dimana masing-masing peserta kemudian mempresentasikan foto-foto terpilihnya sambil menceritakan gagasan yang ingin ia sampaikan dalam photo story mereka.

Pertemuan ini ditutup dengan refleksi atas penemuan-penemuan, kesulitan-kesulitan, dan pelajaran yang para peserta temukan dan dapatkan tidak hanya selama proses Photo Editing 1, tapi juga saat melakukan pemotretan di lapangan. Di kesempatan ini Nita Dian Afianti (Tempo, Jakarta) menyampaikan ia masih berupaya mengenal emosi subyek fotonya. Lain dengan Indra Abriyanto (Harian Rakyat Sulsel, Makassar) yang mengaku masih bingung dengan konsep konseptual dan belum terlalu dekat dengan subyek-subyek fotonya.

Untuk menutup, Ng Swan Ti (Managing Director PannaFoto Institute) menyampaikan, "Terkadang teman-teman ingin mencari ide-ide yang tidak biasa. Padahal sebetulnya ide yang mungkin terlihat klise, ketika digarap dengan baik dan dikenali ceritanya, bisa jadi sesuatu juga". // Lisna Dwi Astuti


Menyusun Proyek Personal bersama Yoppy Pieter

Pada hari Selasa (15/12/2020) sepuluh penerima Permata Photojournalist Grant (PPG) 2020 kembali bertemu dalam ruang virtual untuk mengikuti Pelatihan Fotografi program PPG 2020. Pertemuan ketiga dari rangkaian pelatihan ini dibuka oleh mentor Yoppy Pieter (Fotografer Lepas dan alumni PPG 2011) yang menyampaikan materi bertajuk Developing Your Project: Make It Personal and Matter.

Kenapa 'personal and matter'? "Biasanya karya berangkat dari hal-hal yang dipedulikan dan memiliki kedekatan dengan pembuatnya. Dari situ, terbangun karya yang jujur," ujarnya.

Selanjutnya Yoppy berbicara tentang headline karya. Ia menampilkan karya Sutanto Nurhadi Permana (PPG 2019) yang berjudul Waste Less. Kemudian peserta diminta untuk menuliskan apa kira-kira headline dari karya tersebut. Melalui latihan kecil ini, Yoppy menunjukkan bahwa headline memiliki peran penting dalam menyampaikan gagasan fotografer mengenai karyanya. Fotografer harus mampu menyampaikan gagasannya dalam satu kalimat yang singkat dan padat. Headline ini selanjutnya juga dapat membantu fotografer dalam menentukan visual yang ingin ditampilkan.

Sesi berikutnya masuk ke materi tentang mind mapping, di sini Yoppy mengajak peserta untuk memetakan pemikiran dan pengetahuan mereka tentang topik yang ingin mereka angkat ke dalam sebuah flowchart atau diagram. "Mind mapping bukanlah daftar frame yang akan difoto, namun lebih kepada metode dalam memahami suatu masalah," tegas Yoppy.

Menurut pemaparan Yoppy, Mind Mapping dapat digunakan untuk, 1) Note-taking, kumpulan catatan yang dibuat saat riset, dapat berupa gambar, kata, dan angka; 2) Brainstorming, memetakan ide; dan 3) Organizing Information, untuk menyederhanakan informasi yang kompleks.

Sebelum menutup presentasinya, Yoppy memperlihatkan mind mapping karya personalnya yang berjudul Eastern Comma yang memperlihatkan headline dan cabang-cabang berisi informasi dan data yang ia dapatkan dari risetnya.

Setelah pemaparan materi dari Yoppy Pieter ini, peserta mendapatkan waktu sekitar enam puluh menit untuk membuat mind mapping karya mereka masing-masing. // Lisna Dwi Astuti


Kelas Ragam Narasi Visual oleh Rosa Panggabean

Pada pertemuan pertama kelas Permata Photojournalist Grant, kita sudah berkenalan dengan kesepuluh penerima grant di program ini. Selain itu, peserta bersama dengan para mentor: Edy Purnomo, Rosa Panggabean, dan Yoppy Pieter telah mendiskusikan dan mempertajam proposal masing-masing peserta.

Dalam pertemuan kedua yang berlangsung pada Jumat, 11 Desember 2020 secara daring, mentor Rosa Panggabean (Fotografer dan Alumni PPG 2011) memberikan pembekalan pengetahuan berupa materi tentang ragam narasi visual (cara bertutur). Melalui sesi ini, peserta mengenal dan mendapatkan berbagai referensi visual yang memperlihatkan ragam narasi visual karya-karya fotografer Indonesia maupun dunia. Rosa menegaskan saat ini kebutuhan produksi visual berkembang, hal ini juga yang mempengaruhi narasi visual yang menjadi lebih variatif. Selain itu, Rosa juga mengingatkan para peserta untuk mempertimbangkan output karya masing-masing dan dimana akan mempublikasikan output tersebut, “di dalam program PPG, karya teman-teman akan dipresentasikan dalam format pameran dan buku tapi tentunya peserta juga harus mempertimbangkan publikasi lainnya. Bagi teman-teman yang bekerja di media, coba perhatikan apakah ada rubrik untuk fotografi atau photo story di media masing-masing? Dan seperti apa ketentuannya.”

Pelatihan fotografi ini merupakan rangkaian program Permata Photojournalist Grant (PPG) 2020 persembahan PermataBank, bekerja sama dengan PannaFoto Institute yang diikuti oleh 10 pewarta foto dan pewarta foto lepas yang dipilih berdasarkan seleksi portfolio dan proposal. Hasil karya kesepuluh peserta akan dipresentasikan dalam bentuk pameran di akhir program PPG 2020. // Lisna Dwi Astuti


Workshop Intensif bersama Jenny Smets

Tiga Hari Workshop Intensif Bersama Jenny Smets

Workshop Intensif bersama Jenny Smets

Selama tiga hari. 10-12 Februari 2020, sepuluh peserta Permata Photojournalist Grant (PPG) 2019 mengikuti sesi Workshop Intensif bersama Jenny Smets, seorang independen kurator dan editor foto dari Belanda di Erasmus Huis. Jenny Smets juga merupakan salah satu Project Advisors bagi program Joop Swart Masterclass yang diselenggarakan oleh World Press Photo Foundation dan seorang pengajar di KABK Art Academy di Den Haag, Belanda. Dalam workshop intensif ini, bersama Jenny dan para mentor; Edy Purnomo, Ramdani, Rosa Panggabean, dan Yoppy Pieter, peserta melakukan final edit atas karya photo story mereka. Selain itu, para peserta juga melakukan pitching atau presentasi singkat tidak hanya di hadapan mentor dan peserta lainnya, tetapi juga di hadapan editor foto dari berbagai media lokal, alumni PPG, dan mitra penyelenggara program Permata Photojournalist Grant 2019 - Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2020.

Seusai menyelesaikan final edit bersama Jenny, para peserta mengaku lega dan usaipresentasi final mereka terlihat tersenyum lepas. Kerja keras mereka selama pelatihan yang dimulai sejak bulan Desember 2019 lalu terbayar lunas karena kesepuluh peserta dinyatakan lulus dari program PPG 2019 dan dapat mengikuti Pameran Foto Innovation yang akan berlangsung 5 Maret-5 April 2020 di Erasmus Huis, Jakarta Selatan.

(Lisna Dwi Astuti / Foto: Agoes Rudianto - Fotografer Independen)


Sesi Penulisan oleh Budi Setiyono

Mengenal Dasar-Dasar Penulisan

Sesi Penulisan oleh Budi Setiyono

Sesi Penulisan dalam Kelas Permata Photojournalist Grant (PPG) 2019 terbagi dalam dua sesi dan diampu oleh Budi Setiyono, wartawan dan Redaktur Pelaksana Historia.id. Sesi Penulisan I berlangsung pada tanggal 21 Januari 2020 di WTC 2 - Sudirman dengan materi utama mengenal dasar-dasar penulisan.

(Lisna Dwi Astuti / Foto: Agoes Rudianto, Fotografer Independen)


Editing 3: Photo Sequencing

PPG2019_Class8_Collage - low

Ratusan lembar foto terhampar di atas 10 meja menandakan sesi kedelapan Kelas Permata Photojournalist Grant (PPG) 2019 kali ini adalah sesi editing. Bila pada Editing 1 dan 2 kesepuluh peserta PPG diajak memilih foto-foto yang mereka anggap bagus dan bisa mereka gunakan dalam photo story, dalam sesi Editing 3 yang berlangsung pada 17 Januari 2020 di WTC 2 - Sudirman ini peserta belajar bagaimana menyusun sequence atau urutan foto untuk menceritakan kisah mereka serta menyampaikan gagasan. Ketiga mentor PannaFoto Institute; Edy Purnomo, Yoppy Pieter, dan Rosa Panggabean, serta observer Ramdani (Media Indonesia) turut membantu peserta bagaimana melakuan sequencing foto. Seperti sesi Editing 1 & 2, peserta juga diminta untuk menceritakan kembali secara lisan, tema yang mereka angkat.

Di akhir sesi, peserta menyampaikan melalui sequencing mereka jadi mengetahui, "foto yang kurang dan penting untuk ada untuk melengkapi cerita" - Rivan Awal Lingga, Antara Foto, Jakarta. Selain Rivan, Iqbal Lubis (Pewarta Foto Lepas, Makassar) menyampaikan, "Pemilihan foto harus berdasarkan data dan harus ada argumennya. Menyadari bahwa foto cantik tidak harus selalau dipertahankan, argumen diperlukan atas setiap foto yang dipilih."

Yoppy Pieter, menutup sesi dengan merangkum: 1) Sequence bukan merupakan sebuah kompilasi foto bagus. Harus ada logika bercerita. 2) Foto satu sama lain harus saling mengisi dan menyusun sebuah cerita.

(Lisna Dwi Astuti / Foto: Dwi Prasetya - Narasi.tv)