SANG IDOLA
Fernando Randy, pewarta foto Vivanews.com

I’ll be a teenage idol, just give me a break
I’m gonna be a teenage idol no matter how long it takes
You can’t imagine what it means to me
I’m gonna grab myself a place in history
A teenage idol that’s what I’m gonna be

Itulah sepenggal lirik dari lagu milik penyanyi Elton John yang berjudul “I’m Going To Be A Teenage Idol” yang mencerminkan keinginan untuk menjadi idola remaja: dunia gemerlap, penuh dengan kepopuleran dan tentu saja uang.

Teknologi komunikasi modern memungkinkan informasi diterima seketika di penjuru dunia. Industri hiburan seperti musik dan film turut memanfaatkan keperkasaan teknologi demi mendongkrak popularitas si bintang dan penjualan produk (film, CD, DVD).

Si bintang naik daun bila film atau musiknya berhasil tembus di angka penjualan sekian juta (misalnya) atau ditonton, didengar, diunduh sekian banyak orang. Ia pun ‘dinobatkan’ publik menjadi idola. Selanjutnya, sang idola ini akan memperkenalkan tren tertentu yang diikuti fans, pemuja setianya di sekian banyak negara. Bisa dikatakan bahwa tren gaya hidup global dibentuk oleh media, mulai dari busana, gaya rambut, make-up, aksesori, bahasa gaul, tarian, dan lain lain.

Lihat saja ketenaran para boyband/girlband asal Korea. Bahasa ibu yang kadang mereka pakai di lagu-lagu bukanlah yang dikenal secara universal dibandingkan bahasa Inggris, namun animo pasar luar biasa! Irama musik yang energik, mudah didengar, ditambah gaya personil yang atraktif dengan kostum dan dandanan nyentrik justru membuat para ABG tergila-gila.

Salah satu segmen yang tak luput kena terpaan industri hiburan ini adalah anak-anak. Untuk urusan satu ini, anak-anak Indonesia tak ketinggalan. Mereka sangat trendi. Lewat internet (di perkotaan, khususnya) dan TV, mereka bisa mengetahui dan mengakses apa yang tengah populer di manca negara. Terlebih, waktu yang mereka habiskan untuk browsing dan menonton TV pun cukup signifikan. Penelitian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mencatat bahwa jumlah jam anak-anak menonton siaran televisi mencapai dua kali lipat dari jam sekolah (1.600 jam versus 740 jam per tahun).

Sungguh, kemajuan teknologi membuat idola yang berada jauh di sana, hanya berjarak sejengkal! Berikut kesaksian anak-anak SD kelas V (10—11 tahun) dari salah satu sekolah negeri di Tanjung Priok Jakarta mengenai idola mereka.


Fernando Randy

Fernando Randy mulai menekuni fotografi sejak kuliah. mengikuti berbagai workshop fotografi mulai dari GFJA, Permata Photojournalist Grant hingga workshop Martin Parr. Pada 2015 Dirinya Menerbitkan buku foto Repertoar dan di tabun 2017 buku olahraga Atmosphere. Selain itu dirinya pun aktif nutuk memberikan workshop maupun mentoring dengan tema Smartphone, Street Photography maupun Sport photo. Pernah Bekerja sebagai Foto Jurnalis di kanal VIVA.co.id lalu di Tabloid BOLA dan kini ia bekerja di media sejarah Historia.id, yang membuat dirinya percaya bahwa fotografi adalah seni yang sangat tepat untuk bersuara menuntut perubahan.