PEMELIHARA HARAPAN
Taufan Wijaya, Tribun Batam

Kanker tulang atau ostesarkoma telah menghancurkan sebelah kaki Nina (41) lebih dari satu dekade lalu. Ia pernah bekerja di kantor sebelum akhirnya memutuskan menjadi sukarelawan. Kesehariannya kini membantu orang yang kesusahan dalam layanan medis.

Ia mencarikan donatur bagi mereka yang membutuhkan kursi roda, obat bagi pasien yang tak mampu, dan pemberi semangat bagi yang putus asa dalam pengobatan. Aktivitas sehari-hari Nina berkendara motor roda tiga mengunjungi pasien di beberapa rumah sakit, berbelanja obat dan kemudian ke panti sosial yang menaungi pengguna kursi roda. Semua tempat itu bisa dikunjunginya dari pagi hingga petang.

Nina bukanlah peri. Ia sejatinya menyemai asa dalam dirinya untuk terus hidup. Ia sendiri tengah menghadapi kekambuhan penyakitnya. Sesuatu yang tak beres mulai menyerang tulang tangannya. Kadang ia harus menggunakan obat pereda nyeri untuk menepisnya. Dan apa yang ia kerjakan sebagai sukarelawan mendatangkan tenaga tambahan bagi jiwanya.

Bagi Nina, membangkitkan harapan orang-orang ini adalah bentuk ungkapan rasa syukur, “Ini seperti charging ‘baterai’ saya. Menambah semangat karena tahu bahwa lebih banyak saudara kita yang di bawah, yang lebih menderita,” katanya. Nina terus menyalakan api harapan bagi pasien-pasien yang ditolongnya, tanpa harus menjadi lilin yang luruh karena pijarnya.

Pemberdayaan adalah upaya untuk menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih berguna. Pemberdayaan sejati adalah mendorong orang lain pada kondisi yang lebih baik, dan di waktu yang sama juga terus menyemangati diri. Memotivasi diri untuk menapaki langkah kedua di masa depan.


Taufan Wijaya

Taufan Wijaya memulai karier profesionalnya pada awal 2007 saat bergabung dengan harian Jawa Pos di Surabaya sebagai jurnalis foto. Di tahun 2008 berhenti dan ia mulai menulis. Kemudian bergabung dengan kelompok Tribun (Kompas Gramedia) dari 2009 hingga 2013. Sekarang ia menjadi penulis dan jurnalis foto lepas.