MISS TJITJIH KIAN TERTATIH
Wahyu Putro Arianto, LKBN Antara

Dalam suasana hening, tiba-tiba sesosok kuntilanak terbang di atas panggung. Penonton yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan tiba-tiba menutup mata mereka dengan tangan. Penuh horror dan aura mistis, itulah kesan yang didapatkan saat menyaksikan sandiwara berlatar belakang cerita horror dan cerita rakyat dari Bumi Parahyangan, Miss Tjitjih.

Kelompok kesenian itu telah menghibur penonton seajk di Batavia hingga sekarang di Cempaka Putih, terus mempertahankan bahasa Sunda dalam setiap pementasannya. Dari tahun ke tahun, hingga berganti generasi, cerita pementasan masih tetap sama; sebagian besar mengangkat cerita horror seperti “Kuntilanak Warung Doyong”, “Kehidupan di Alam Kubur”, dan “Beranak dalam Kubur”.

Horror serta aura mistis telah ada dan dirasakan secara turun-temurun dari generasi pendahulu. Bahkan, bisa dikatakan telah menjadi warisan budaya tak berwujud di Indonesia. Kesan horror dan mistis diadopsi oleh kelompok Miss Tjitjih dalam sebagian besar pementasannya. Grup yang berdiri pada 1927 di Batavia itu sejak mengalami masa kejayaan hingga sekarang-yang telah ditinggalkan penontonnya-tetap konsisten mementaskan teater dengan genre horor.

Namun, ironis. Kesan horror dalam setiap pementasannya juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari; “horor” karena persoalan finansial merupakan permasalahan para pemain Miss Tjitjih. “Pendapatan kita sebagai seniman hanya saat kita tampil, karena subsidi anggaran dari DKI Jakarta,” kata Imas Darsih, yang dipercaya menjadi pimpinan grup Miss Tjitjih.

Dia mengaku, jika subsidi belum turun, pementasan Miss Tjitjih tidak dapat dilakukan. Karenanya, para pemain harus memutar otak untuk mendapatkan uang demi melanjutkan hidup, meskipun sejumlah pemain lain memiliki pekerjaan sampingan.

Kelompok kesenian Sandiwara Miss Tjitjih yang dianggap sebagai pelopor teater modern terus tergerus zaman. Mereka telah jauh tertinggal dari kesenain modern yang sudah masuk ke dalam industri hiburan yang telah mengambil hati masyarakat. Perjuangan kesenain berlatar belakang budaya Sunda di tengah masyarakat Jakarta yang heterogen menjadi salah satu tantangan bagi mereka untuk terus mempertahankan kelompok sandiwara itu.

Namun, di balik semua permasalahan materi, para pemain tetap menjaga asa untuk mempertahankan Sandiwara Miss Tjitjih dari kepunahan.


Wahyu Putro Arinto

Bekerja sebagai pewarta foto di LKBN Antara di Jakarta sejak 2012. Setahun kemudian, ia memperoleh kesempatan di antara 30 fotografer muda Asia untuk mengikuti Angkor Photo Workshop di Siem Reap, Kamboja.

Dia juga berpartisipasi dalam sejumlah pameran fotografi, seperti “Kilas Balik Antara Foto” 2009-2010, 2011, 2012, 2013-2014, “Sinabung-Kelud Calling”, “Mt. Merapi 10 Summit of Fire”, serta pameran lainnya.