Dolphin’s Journey

Johannes P. Christo (Pewarta Foto Lepas, Denpasar)

Saat jam makan tiba, ikan-ikan segar di lempar secara acak dan jatuh melayang-layang dalam air. Dewa dengan cekatan menerkam dengan moncongnya yang ompong. Sebuah kegembiaraan yang tidak di dapatinya setelah bertahun-tahun lamanya hidup di kolam beton. Dewa menikmati hari-harinya bermain sambil belajar di dalam air laut bersama rekannya Johnny di keramba laut atau sea pen rehabilitasi Umah Lumba di sebuah teluk milik kawasan Taman Nasional Bali Barat, Buleleng, Bali.

Dewa adalah satu dari empat ekor lumba-lumba yang berhasil diselamatkan dari kolam berklorin dan bahan tepuk tangan para penonton sirkus. Dewa juga harus dipaksa mengeluarkan sonarnya untuk alasan terapi pengobatan para anak pengidap autisme, yang kemujarabannya masih sebatas rumor. Lebih memperihatinkan lagi Dewa memiliki kebiasaan membenturkan dirinya ke pinggir kolam. Dugaan kuat ia mengidap penyakit kronis dan gangguan mental.

Setalah beberapa bulan Dewa menikmati laut, lumba-lumba Dewa mengakhiri hidupnya di sea pen medis. Sakit dalam tubuhnya sudah tidak tertolong meski perhatian medis penuh diberikan padanya selama proses penyembuhan. Hasil nerkopsi atau pembedahaan, mengejutkan. Sebuah bukti bahwa kehidupan di kolam berklorin, obatan-obatan yang dikonsumsinya selama bertahun-tahun, merusak organ-organnya bahkan mentalnya.

Dewa adalah martir yang membuka tabir fakta medis kesehatan lumba-lumba di sirkus. Bahwa lumba-lumba akan sangat menderita baik fisik dan mental ketika dieksploitasi dalam kolam sirkus. Karena mereka seharusnya hidup bebas berkeluarga dan berkoloni  di laut luas yang alami.

Medio 2019 Hotel Melka bangkrut. Atraksi lumba-lumbanya pun ditutup. Keempat lumba-lumba ini dibawa untuk menjalani rehabilitasi. LSM Jakarta Animal Aid Network dan Dolphin Project diberi mandat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk merawat mereka sampai siap untuk dilepasliarkan di habitat aslinya.

Tinggal lah Rocky, Rambo dan Johnny. Mereka direhabilitasi agar naluri alamiahnya kembali liar. Seperti mengetahui mana mangsa mana teman, menangkap ikan hidup, menggunakan sonar untuk bernavigasi, merasakan perubahan alam dan mengenal keanekaragaman hayati di laut. Interaksi dengan manusia sangat dibatasi dalam masa rehab, supaya mereka tidak terbiasa lagi dengan kehadiran manusia dan lebih memilih untuk berinteraksi dengan sesama lumba-lumba.

Proses ini terus berjalan sampai mereka siap untuk kembali ke asalnya. Dan saya terus mendokumentasikan projek ini karena merupakan catatan sejarah dimana untuk pertama kalinya lumba-lumba eks sirkus direhabilitasi dan dilepasliarkan ke laut di Indonesia.


Johannes P. Christo

Christo adalah seorang juru foto yang memiliki ketertarikan khusus terhadap isu satwa dan lingkungannya, baik hewan liar maupun domestik. Ia sering terlibat proses dokumentasi berbagai upaya perlindungan dan penyelamatan satwa bersama LSM Jakarta Animal Aid Network. Selain itu, ia juga suka memotret hal-hal yang bersifat mistis, bersinggungan dengan kepercayaan dan adat lokal. Kedua minatnya tersebut membawa ia menyelami dunia fauna dan budaya spiritualisme. Berprofesi sebagai pewarta foto lepas sejak 2009 di Bali, ia berpengalaman bekerja dengan sejumlah media nasional serta internasional. Pernah mendapat beasiswa lokakarya fotojurnalistik, seperti Angkor Photo Workshop 2009 dan Foundry Photojournalism Workshop 2010. Baginya, fotografi adalah sebuah wadah kosong yang semestinya diisi dengan keilmuan lain agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.