Knocked Out: The End Story of The Metromini Bus

Knocked Out: The End Story of The Metromini Bus

Iqbal Septian Nugroho (merdeka.com, Jakarta)

Inovasi ternyata tidak melulu menciptakan hal baru yang positif demi kebutuhan masyarakat, tetapi juga meninggalkan kekelaman bagi mereka yang terkena dampak hingga tersingkirkan. Sebut saja Bus Transjakarta dan transportasi online yang kian hari kian berkembang biak di ibu kota. Kehadiran mereka merupakan pukulan telak; peluru tajam; bom waktu bagi pemilik dan para sopir MetroMini yang malang.

Keberadaan MetroMini di Jakarta dimulai pada tahun 1962 ketika diperkenalkan oleh Gubernur Soemarno, atas instruksi Presiden Soekarno, untuk memenuhi kebutuhan transportasi peserta Pesta Olahraga Negara Berkembang (GANEFO). Saat itu dikenal dengan sebutan ‘Bus Merah’, MetroMini kemudian menjadi angkutan massal primadona warga ibu kota. Pada 1990, MetroMini menguasai 60 trayek di Jakarta dengan jumlah armada bus mencapai 3.000 unit.

Namun, memasuki tahun 2013 denyut mesin MetroMini mulai tersendat akibat kehadiran Bus Transjakarta, selain permasalahan internal PT Metromini. Dari 60 trayek, hanya separuh yang masih aktif. Sementara itu, 1.600 unit berhenti beroperasi karena disita Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan alasan kondisi bus tidak laik.

Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama semakin mengubur kejayaan “Si Raja Jalanan” ini. Banyak MetroMini dibuang ke Rawa Buaya hingga lokasi tersebut dikenal dengan julukan “Kuburan MetroMini”.

Saat ini hanya belasan bus MetroMini yang tersisa di Jakarta. Banyak pemilik MetroMini terpaksa menjualnya kepada tukang besi lantaran pendapatan kian pahit akibat penumpang yang beralih ke Transjakarta dan transportasi online, serta razia Dinas Perhubungan yang semakin menggila.

Selain pemilik, dampak inovasi ini sangat dirasakan oleh para sopir. Mereka kehilangan sumber penghidupan yang telah digeluti selama puluhan tahun. Banyak dari mereka yang pulang ke kampung, membuka bengkel tambal ban, memulung botol plastik, hingga berpisah dengan keluarga, karena permasalahan ekonomi.

Para pria ini memang andal sebagai sopir MetroMini, tapi tidak untuk angkutan lain. Mereka ditolak mentah-mentah saat menawarkan jasa ke angkutan lain, seperti taksi; terlebih sebagai pengemudi Transjakarta yang penuh syarat, salah satunya ijazah pendidikan.

“Indonesia itu tidak butuh jasa, tapi ijazah,” ucap Nababan (42), mantan pemilik MetroMini yang kini membuka bengkel tambal ban setelah kehilangan 50 bus MetroMini miliknya.