Sang Penyembuh: Legenda Pijat Tradisional di Jakarta

Jamal Ramadhan (kumparan.com, Jakarta)

Hari itu, sebuah rumah di Jakarta Selatan tampak ramai. Masyarakat mengantre untuk mendapatkan pengobatan patah tulang dan terkilir. Di Pijat Haji Naim, yang berdiri sejak 1960, orang-orang dari berbagai kalangan datang untuk pengobatan. “Saya datang dari Tangerang. Tahu pengobatan ini dari teman dan sudah beberapa kali ngantar,” ucap Faris (29) sehabis jari kirinya yang retak dipijat.

Haji Naim merupakan pemijat generasi pertama dari pengobatan tradisional itu hingga beliau wafat karena darah tinggi pada 1981. Sebelum beliau meninggal, anak-anaknya mulai belajar memijat ke daerah Cimande, Bogor, untuk meneruskan praktik pengobatan di rumah. Banyak pasien yang sembuh setelah datang dipijat, hingga kini nama Pijat Haji Naim melegenda di Jakarta.

Praktik itu buka setiap hari, mulai dari pukul 05.30 hingga pukul 23.00 WIB. Tiap hari Kamis, para pemijat melakukan pengajian Al-Qur’an, sehingga praktik tutup sementara pada pukul 18.00 dan kembali buka pada pukul 21.00. Pijat di tempat tersebut menggunakan minyak khas daerah Cimande dan penyangga yang terbuat dari bambu untuk pasien yang mengalami patah tulang.

Menurut salah satu penerus, Kosasih (50), banyak pasien dari rumah sakit meneruskan pengobatan ke Pijat Haji Naim karena tidak repot dalam urusan administrasi serta biaya pengobatan yang seikhlasnya. “Dalam sehari sekitar seratus sampai dua ratusan pasien datang kemari. Apalagi Sabtu [dan] Minggu, bisa hampir tiga ratus,” pungkasnya.

Tempat pengobatan itu menyediakan ruang rawat inap sederhana dengan sejumlah ranjang dan bantal seadanya untuk pasien yang mengalami luka berat. Pengobatan ini tak banyak berubah, baik dari segi tempat maupun proses pengobatan. Meski begitu, pengobatan ini tetap diminati di tengah inovasi pengobatan modern.

Banyak pasien datang membawa hasil scan rontgen dari rumah sakit atau klinik ortopedi. “Saya bawa rontgen biar pemijatnya lihat kondisi tulangnya. Soalnya ngeri juga kalo salah pijat,” ucap Heri (34), pasien yang datang dari Bekasi. Teriakan kesakitan pasien berbaur dengan senyum pasien yang sembuh, humor, dan keakraban para pemijat dengan pasien mengiringi perjalanan Pijat Haji Naim. Kesederhanaan itulah yang menjadi jati diri tempat pengobatan ini sejak berdiri hingga kini.


Jamal Ramadhan

Jamal Ramadhan, lahir di Bandung pada 22 Maret 1991. Ia mulai mengenal fotografi sejak 2011 dengan memotret pernikahan dan dokumentasi berbagai kegiatan. Pada masa kuliahnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2013, di sana Jamal bergabung dengan Komunitas Foto Jurnalistik, Photo's Speak dan ikut berpameran foto sebanyak tiga kali. Setelah lulus pada 2017 ia diterima sebagai foto jurnalis di media online kumparan.com dengan tugas memotret keseharian masyarakat Jakarta, politik, ekonomi dan lain-lain, hingga sekarang. Ia senang menekuni fotografi karena bisa menangkap dan berbagi peristiwa yang ia lihat dan alami.