Sisters in Black

Hesti Rika Pratiwi (CNNIndonesia.com, Jakarta)

“Kau benar-benar lebih cantik dengan cadarmu ukhti.” Sepenggal kalimat dilontarkan seorang perempuan bercadar kepada rekannya yang juga bercadar, yang lalu membalasnya dengan senyuman. Walau bibirnya tertutup cadar, tapi saya bisa melihat sorot matanya yang seolah ikut tersenyum.

Belakangan ini perempuan bercadar mulai mengisi ruang publik di Indonesia. Keinginan manusia yang tak terbatas, selalu ingin bergerak menembus batas. Seringkali, niat berkerudung tak lagi cukup untuk menutupi kepala saja. Bagi sebagian muslimah, puncak hijrah adalah dengan bercadar.

Enambelas tahun telah berlalu sejak meledaknya bom di Legian Bali pada 12 Oktober 2002. Setelah tertangkapnya pelaku pengeboman, media tidak hanya mengungkap profil seorang teroris, tetapi juga menampilkan sosok istri-istri para pelaku peledakan yang hampir semuanya menggunakan cadar. Hal inilah yang membuat pemakaian cadar di Indonesia sejak dulu menjadi isu. Stigma yang umum melekat pada wanita bercadar adalah identik dengan kebudayaan Arab dan menganut paham radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme.

Namun banyak cerita di balik proses hijrah ini. Keputusan menggunakan cadar tentu tidak mudah dan tak sedikit larangan justru datang dari keluarga. Berbagai pandangan umum kerap menghakimi bahwa mereka yang mengenakan cadar hanya sebatas perempuan dengan tugas mengurusi pekerjaan domestik di rumah tangga. Tentu saja, ini tidak berlaku untuk semua perempuan bercadar.

Mengenakan hanya pakaian berwarna hitam dan meninggalkan hal-hal duniawi tak mungkin dapat dilakukan sendiri. Hijrah membutuhkan dukungan, sulit jika dijalani sendiri. Kondisi seperti inilah yang memperkuat ukhuwah di antara pengguna cadar. Tak sedikit yang bercerita ketika memutuskan mengenakan cadar banyak teman yang meninggalkan mereka. Namun di sisi lain mereka juga mendapatkan teman baru yang sama-sama berhijrah.

Meski kerap dicap membawa pengaruh asing, para perempuan bercadar ini tetap berusaha mengubah pandangan negatif di masyarakat. Saat ini, perempuan Muslim percaya bahwa menggunakan cadar selain sebagai salah satu upaya mengikuti sunah Rasul, juga untuk menjaga mereka agak tidak menjadi fitnah dan menarik perhatian laki-laki yang bukan muhrimnya.


Hesti Rika Pratiwi

Hesti Rika lahir di Yogyakarta pada tahun 1991. Ia mengenal fotografi sejak 2009 saat melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Ia aktif mengikuti sejumlah pameran salah satunya pameran bertema ‘Jogja Tumbuh’. Saat pindah ke Jakarta, Hesti mengawali kariernya sebagai fotografer untuk perusahaan maskapai Batik Air. Namun hasratnya yang kuat di bidang jurnalistik membawanya bergabung ke CNNIndonesia.com pada tahun 2017. Isu mengenai identitas mempunyai keunikan tersendiri bagi Hesti sebagai jurnalis foto.