REGENERASI DALANG DI IBU KOTA
Hendra Agus Setyawan, KOMPAS

Tangan mungil Harlindar Mukti Prakosa (8) lincah memainkan wayang yang seukuran setengah dari tinggi tubuhnya. Suluk Patet Nem (semacam puisi atau sajak dalam pewayangan) mengalun dari mulutnya yang juga mungil, dengan lengkingan suara khas anak-anak. la memainkan wayangnya di depan kelir (kain putih untuk latar belakang) berukuran 1×1 meter, diterangi blencong yang terbuat dari lampu belajar yang dimodifikasi. Hampir setiap saat Harli bersentuhan dengan wayang. Menurut ayah Harli, Darko (46), anaknya mulai menyukai wayang kulit sejak umur 4,5 tahun.

Anak-anak yang lahir dan tumbuh di Jakarta kerap kali tercerabut dari akar budaya tradisional. Faktor modernisasi, dan pengaruh budaya luar yang sangat kuat di kota metropolitan membuat budaya tradisional seperti wayang kulit kurang diminati. Anak-anak lebih mengenal tokoh jebolan Marvel daripada keluarga Pandawa.

Bagi anak-anak syang rata-rata lahir di Jakarta,belajar pewayangan berarti harus belajar ekstra. Sebab, selain belajar mengenal dan menguasai cerita dan tokoh pewayangan, mereka juga belajar bahasa Jawa, bahasa pengantar pewayangan, yang tidak digunakan untuk betkomunikasi sehari-hari oleh anak-anak ini.

Dari ratusan sanggar yang ada di Jakarta, hanya Sanggar Nirmala Sari yang hingga kini masih eksis mendidik anak-anak untuk belajar menjadi seorang dalang. Sanggar yang berdiri 1 Juni 1987 ini diasuh oleh Ki Asman Budi Prayitno, salah satu dalang senior Ibu Kota. Setiap Minggu Ki Asman dibantu asistennya, Pujo Winarto, menggembleng anak-anak mulai umur lima tahun hingga belasan tahun tentang pelajaran pewayangan dan pedalangan.

Menurut Ki Asman, materi pedalangan yang diajarkan kepada anak-anak disesuaikan dengan psikologi mereka. Untuk usia lima hingga tujuh tahun, diperkenalkan silsilah wayang, can memainkan wayang, dan lakon-lakon pendek yang disesuaikan dengan sifat, watak, dan karakter wayang. Sedangkan untuk pembelajaran usia delapan hingga empat belas tahun mula diajarkan iringan, dialog, dan narasi. Selain itu, penjiwaan dalam melakonkan wayang kulit juga diberikan. Secara umum lakon yang dikenalkan biasanya lingkungan hidup (bumi, bulan, tanaman, hewan, dan lain-lain).

Prinsip utama pembelajaran wayang kepada anak-anak menua Asman adalah menekankan pada estetika, rasa hormat, dan rasa sayang sesama makhluk hidup. Selain itu juga perjuangan meraih cita-cita untuk menumbuhkan semangat.

Menurut Darko dunia pewayangan adalah masa depan anaknya, la hanya mengikuti dan mengarahkan apa yang menjadi hasrat dan keinginan Harli untuk belajar wayang. Saat ini, selain belajar di sanggar, Harli juga mengikuti les bahasa Inggris di dekat rumahnya di Bintaro, Tangerang Selatan. Cita-cita terbesar Harli adalah mendalang menggunakan bahasa Inggris.


Hendra Agus Setyawan

Hendra A, Setyawan lahir di Pacitan, Jawa Timur, 35 tahun lalu. Saat ini bekerja sebagai pewarta foto tetap di Harian KOMPAS sejak 2005. Mengenal kamera sejak awal 2000-an dengan Nikon F-3 sebagai kamera pertama. Belajar fotografi sebagian besar dari internet, melalui forum fotografi yang saat itu tengah naik daun. Sebelum bekerja sebagai jurnalis foto, la bekerja di sebuah radio di Solo sebagai tim produksi selama 1,5 tahun.

Lima tahun pertama di KOMPAS, ia ditempatkan di Malang, Jawa Timur. Karakter masyarakat setempat yang segar dan dinamis dan tanpa basa-basi sedikit mempengaruhi karakter fotografinya. Banyak kejadian penting yang mewarnai liputan jurnalistiknya selama di sana. Dari hard news hingga olahraga yang selalu lekat dengan Malang. Pada 2011, ia ditarik ke kantor pusat KOMPAS di Jakarta.

Berbagai penghargaan fotografi berhasil diraihnya, namun yang paling berkesan baginya adalah menjadi salah satu juara Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2014, kategori olahraga, yang merupakan kompetisi foto jurnalistik paling bergengsi di Tanah Air.