Land of My Land

Riska Munawarah (Pewarta Foto Lepas, Aceh)

Hingga awal 2020, tiang-tiang pancang proyek Jakarta International Stadium masih berdiri tegak di depan gubuk para petani di kawasan Sunter Agung, Jakarta Utara.

Lahan pertanian yang bersebelahan dengan proyek itu awalnya adalah lahan tidur yang dimanfaatkan petani untuk berkebun.

“Sebelum ke sini, saya bertani di Kampung Bayam yang sekarang sudah jadi lahan proyek,” kata Surkha, petani yang pertama kali membuka lahan tersebut. Sudah 10 tahun ia merantau di Jakarta.

Bertani di ibu kota bukanlah hal yang mudah. Permasalahan lahan kian menghantui para petani. Perubahan peruntukan dan diambilnya lahan menjadi masalah yang merundung. Luas lahan perkebunan di Jakarta terus mengalami penyusutan tiap tahun. Dalam kurun waktu 2014–2018, produksi sayur-sayuran di kota ini terus menurun. Hal itu juga disebabkan karena luas lahan sayuran yang semakin berkurang. Berdasarkan data BPS tahun 2015, luas ladang di Jakarta mencapai 97,4 ribu hektare, menyusut pada tahun berikutnya menjadi 34,4 ribu hektare, dan tahun 2017 tersisa 18,6 ribu hektare.

Pertanian urban juga sering kali dilakukan di lahan yang tidak digunakan (lahan tidur). Keberadaan lahan tidur ini sering kali meningkatkan kekhawatiran konflik antarindividu terkait status kepemilikan dan perencanaan fungsi tata ruang kota yang sering digagas berbagai pemimpin daerah. Para petani yang kepemilikan lahannya belum jelas itu dipaksa memutar otak untuk tetap bertahan bertani di kota Jakarta. Mereka kerap berpindah-pindah mencari lahan kosong untuk digarap.

Sukidjo (60) misalnya, ia memilih bergabung bersama Surkha dan petani lainnya untuk kembali bercocok tanam. Lahannya yang dulu, kini sudah diuruk menjadi proyek. Ada beberapa komoditas sayuran yang ditanam oleh para petani, di antaranya kangkung, sawi, bayam, kemangi, dan pare. Mereka menjualnya ke pasar terdekat.

Di lahan yang digarap Surkha dan Sukidjo, kini berdiri belasan gubuk para petani. Mereka menetap dan tinggal di sana. Para petani kerap bekerja sama dan saling membantu. Surkha, yang sudah tak kuat mengangkat sayuran, dibantu oleh tetangganya untuk membawa hasil panen ke pengepul.

Para petani yang mayoritas berasal dari Indramayu ini seakan bersatu melawan permasalahan konflik lahan yang terjadi.

Ketersediaan lahan yang semakin terbatas tentunya menjadi kendala utama di samping pendapatan yang diperoleh.


Riska Munawarah

Riska Munawarah lahir di Banda Aceh pada 20 Oktober 1998. Ia memulai karir sebagai fotografer jurnalistik pada tahun 2018 di Tabloid Pikiran Merdeka. Riska mengenal fotografi sejak SMP lewat pengaruh kuat kakaknya yang saat itu berprofesi sebagai jurnalis foto. Kemudian ia mulai belajar fotografi jurnalistik dengan bergabung di Unit Kegiatan Pers Kampus (UKPM) Sumberpost. Riska juga pernah ikut berpartisipasi sebagai peserta pada pameran foto InSumatra Festival. Saat ini ia aktif dalam organisasi Pewarta Foto Indonesia wilayah Aceh.