Finding Home

Putra Muhamad Akbar (Republika, Jakarta)

“Tidak ada jaminan seorang Hazara dapat pulang dengan selamat apabila beranjak meninggalkan rumahnya,” ucap Ali Ahmadi. Sepenggal kalimat tersebut merupakan gambaran kecil dari penderitaan yang harus dijalani oleh kaum etnis Hazara. Konflik perang saudara serta ancaman persekusi dari kelompok Taliban terus membayangi keselamatan setiap harinya. Sehingga, sebagian etnis Hazara lebih memilih meninggalkan Afghanistan untuk menyelamatkan diri.

Perjalanan panjang harus ditempuh untuk mencari negara baru yang akan mereka sebut “Rumah”. Namun, semua yang diharapkan tidak semulus dengan kenyataan yang mereka alami. Sebelum menuju ke negara baru yang diinginkan seperti Kanada, Selandia Baru dan Australia, mereka harus transit dahulu di Indonesia dengan menyandang status sebagai pengungsi.

Berdasarkan data UNHCR, sampai dengan Desember 2017 terdapat 13.840 jiwa pengungsi berada di Indonesia yang 55% diantaranya berasal dari Afghanistan. Mayoritas pengungsi Hazara memilih bermukim di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. “Di sekitar Cisarua dan Puncak ada sekitar 2.000 pengungsi Hazara yang tinggal di rumah kontrakan,” ujar Ashraf Jawady, salah satu pengungsi Hazara yang sudah tiga tahun tinggal di Indonesia.

Bukan hal mudah hidup menyandang status sebagai pengungsi di Indonesia, mereka tidak bisa bekerja dan hanya mengharapkan bantuan dana dari keluarga dan saudara yang masih bertahan di Afghanistan atau sudah berada di negara ketiga. Butuh waktu hingga bertahun-tahun untuk mendapatkan negara baru yang dapat menerima pengungsi dari negara konflik dari UNHCR. Bagi pengungsi Hazara yang tidak memiliki uang untuk tinggal di kawasan Cisarua dan Puncak, mereka terpaksa tinggal di pinggir jalan sambil mengharapkan datangnya waktu keberangkatan.

“Kami terpaksa tinggal di pinggir jalan, kami tidak punya uang lagi dan tidak bisa bekerja selama di Indonesia, tapi kami tidak ingin dikembalikan lagi ke Afghanistan itu, sama saja dengan bunuh diri,” kata Ali Ahmadi. Setiap harinya, para pengungsi Hazara mengharapkan bantuan makanan dari kedermawanan warga dan mendirikan tenda di atas trotoar untuk tidur di Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta. Bertahan hidup di pinggir jalan sambil termangu melihat lalu lalang kendaraan dari pagi hingga malam hari, berharap akan ada negara ketiga yang bersedia menerima mereka.

Orang-orang etnis Hazara merupakan salah satu korban diskriminasi di Afghanistan karena perbedaan ras, etnis, dan keyakinan dari mayoritas etnis lainnya. Keberagaman menjadi suatu ancaman tersendiri bagi etnis Hazara yang membuatnya harus pergi jauh meninggalkan tanah kelahirannya serta orang-orang tercinta demi menjemput kehidupan yang lebih damai di negara ketiga yang hingga kini belum pasti di mana keberadaannya.


Putra Muhamad Akbar

Putra Muhamad Akbar lahir di Surabaya pada 25 September 1993. Ia mulai mempelajari fotografi pada masa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta di UKM fotografi Kaphac 32. Ia mengawali karir pada dunia jurnalistik sebagai pewarta foto sejak tahun 2016 di harian lokal di Bogor dan kini bekerja untuk Harian Republika. Bagi laki-laki yang akrab disapa Abay itu, fotografi jurnalistik merupakan salah satu cara untuk mempelajari kehidupan melalui orang-orang yang menjadi subjek fotonya.