“ELANG” KAMPUNG MELANGLANG DUNIA
Wahyu Wening, Jurnal Nasional

Sinar matahari tengah terik. Di angkasa, liukan sayap parasut paralayang seperti burung elang yang sedang mengukur luasnya langit.

Liukan “elang” yang akan mendarat menjadi fokus mata anak-anak usia 7-15 tahun. Begitu kaki pilot menjejak lapangan pendaratan (1.000 mdpl), beberapa anak menghampiri. Parasut dilipat dengan hati-hati dan mereka kemas dalam ransel bersama tali, harness, helm untuk diangkut ke Bukit Gantole (1.250 mdpl), area take off. Anak-anak itu biasa disebut “paraboy”, yang muncul awal tahun 1990-an sejak paralayang diperkenalkan di Puncak.

Bagi paraboy setiap parasut yang turun adalah berkah. Upah sebesar Rp2.000–Rp5.000 setiap kali merapikan peralatan paralayang atau gantole, lumayan bisa menghapuskan lelah. Dalam sehari, Rp20.000–Rp60.000 bisa mereka kantongi.

Dari angkasa, berkah tak hanya berupa rupiah, namun juga pengetahuan. Para pilot melatih mereka untuk bisa terbang. Sebuah mutualisme indah yang dilakukan dengan sederhana, bertumpu pada rasa saling ingin membantu.

Instruktur paralayang David Teax berpendapat, “Paraboy lebih mudah menyerap pengetahuan dan teknik terbang paralayang, karena setiap hari mereka melihat pilot terbang dan selalu meluangkan waktu untuk berlatih.”

Siapa nyana dari paraboy, bakal ada yang melanglang buana ke angkasa negeri seberang lalu pulang berkalung medali. Salah satunya Nanang Sunarya yang kini menjadi atlet paralayang peringkat 17 dunia versi Federation Aeronautique Internationale (FAI) dan penyumbang dua emas SEA Games 2014.

“Paralayang selama ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal Indonesia menduduki peringkat kelima dunia World Paragliding Rangking System FAI 2013-2014 untuk nomor ketepatan mendarat,” ujar Gendon Subandono, instruktur paralayang.

Kisah Nanang dari Kampung Pansiunan adalah contoh sukses regenerasi atlet. Dari paraboy bisa lahir atlet-atlet paralayang dan gantole baru. Negara jelas mesti peduli. Pemangku olahraga di tanah air bisa belajar bagaimana mencetak atlet tanpa dibumbui ruwetnya birokrasi olahraga dari Bukit Gantole, tanah lapang ujung kebun teh.

Bagi saya, pemberdayaan adalah menjadikan lebih dari sekedarnya.


Wahyu Wening

Belajar fotografi secara otodidak sejak bergabung dengan Mapala UI tahun 1998. Mengawali karir sebagai fotografer di majalah Lion Air Inflight tahun 2003. Kemudian bergabung dengan Harian Jurnal Nasional sejak 2006 hingga sekarang. Aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran.