admin

  Fotografi tak hanya membutuhkan mata untuk memaknai hasil karya namun juga melibatkan seperangkat indera dan nalar agar mampu berpikir secara visual. Selama 2,5 jam, Edy Purnomo mengupas tuntas materi Literasi Visual. Sebuah gambar yang menyerupai tanduk hewan menjadi stimulus pertama yang diberikan Edy untuk memantik imaji peserta. Saat ditanya, gambar apakah ini? Mereka menjawab dengan beragam asumsi, dari kepala banteng, gantungan pakaian, rusa, sampai simbol sebuah partai. Edy sepakat dengan Adwit, keragaman jawaban ini muncul karena masing-masing individu memiliki paparan visual yang berbeda sesuai dengan pengalaman masing-masing. “Dari semua asumsi, ternyata gambar ini adalah bayangan stang sepeda,” terang Edy. Literasi visual terbagi dalam dua bagian, pertama, Editorial Level yang bersifat informatif biasanya untuk keperluan dokter forensik dan yang kedua, Visual Level atau foto metaforik yang dapat mengaitkan dengan memori personal. Istilah literasi visual lahir pada 1969 di tangan John Debes, seorang pendiri International Visual Literacy Association. Dalam kredonya, John Debes mengungkapkan, literasi visual adalah kemampuan manusia untuk dapat merasakan sensori penglihatan sekaligus mengintergrasikannya dengan pengalaman indrawi. Kemampuan ini membuat kita lebih peka menafsir ragam simbol disekitar, hasilnya, kita mampu memahami dan menikmati karya visual.Foto berwarna hitam legam ditampilan Edy sebagai stimulus kedua. Tanpa elemen visual seperti garis, bentuk, warna, ruang, dan tekstur, hampir semua peserta bersepakat mereka hanya menangkap rasa takut dan khawatir. Hal ini ternyata sesuai dengan argument Kasimir Malevich dalam Teori Black Square (1915), “Bukan kotak kosong yangku perhatikan melainkan perasaan personalku,” Di antara banyak teori, Gestalt karya Kurt Koffa dkk ini paling beken dalam dunia visual. Teori ini bekerja dengan empat elemen: kedekatan, kesamaan, kesinambungan, dan penutup. Teori ini menangkap watak psikologis manusia yang condong asosiatif dalam menalar visual. Meski alamiah, namun Edy meningatkan, cara itu seringkali mengecoh kita pada gabungan gambar yang tak jarang hoax. Karena itu, ia menekankan pentingnya tahap look, see, dan descripe sebelum meloncat pada interpretation. Elaborasi berbagai teori dalam literasi visual agaknya mampu menjawab pertanyaan beberapa peserta di kelas sebelumnya, “Bagaimana melukiskan perasaan dengan cahaya?” “Kepekaan itu muncul dari latihan tapi tak hanya soal visual, tapi kita juga perlu membaca novel dan mendengarkan musik misalnya. Medium lainnya dapat membantu memperkaya imajinasi dan kosakata visual kita,” pungkas Edy.