“Apakah kita telah menemukan relevansi pada cerita foto yang kita kerjakan?” Saša Kralj, founder Živi Atelje DK, Zagreb, mengajukan pertanyaan pembuka tersebut dalam pelatihan fotografi, rangkaian program Permata Photojournalist Grant (PPG) 2020, Jumat, (22/1/2021).

Relevansi yang dimaksud yaitu, apakah cerita kita bisa relevan terhadap diri kita sendiri, apakah relevan terhadap protagonis di dalam cerita, dan apakah relevan terhadap audiens. Jangan sampai kita terlalu fokus pada diri sendiri dan tidak peduli dengan target audiens yang ingin dicapai.

Menentukan target audiens barangkali jadi problem bagi kebanyakan fotografer karena ada kecenderungan ingin memuaskan semua orang. Namun yang kerap terjadi justru fotografer terjebak pada cerita yang terlalu umum dan dangkal sehingga hasil akhirnya tidak memuaskan siapapun. Inilah mengapa riset audiens menjadi hal yang sangat penting.

“Jadi kita harus membayangkan audiens kita, bagaimana audiens akan bereaksi terhadap cerita kita. Jangan membuat cerita hanya karena itu menarik bagi Anda saja,” ujar Saša.

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa tahu jika cerita tersebut relevan terhadap audiens atau tidak?

Menurut Saša, langkah paling awal yaitu kita harus mampu mendefinisikan audiens kita terlebih dahulu. Kita harus
memiliki bayangan dan tahu cara mengkomunikasikan cerita kepada audiens dengan kritis. Saša menekankan, jangan sampai kita terkesan menggurui audiens dan berasumsi bahwa mereka tidak tahu apa-apa.

Selanjutnya, hal yang harus dipikirkan oleh fotografer adalah jenis penyajian karya seperti apa yang akan dipilih. Fotografer sering berpikir bahwa foto saja sudah cukup, namun melalui foto esai kita juga bisa mengumpulkan teks demi teks. Maka, jika kita ingin menampilkan karya pada halaman koran, pilihan penyajiannya adalah gabungan foto dengan caption pendek.

Namun, di era digital seperti sekarang, penyajian karya dengan hanya menampilkan foto dan teks saja tidaklah cukup. Fotografer harus kreatif dan berani tampil berbeda mengemas karyanya. Caranya yaitu dengan memanfaatkan multimedia sebagai pelengkap medium cerita.

Multimedia berarti “semuanya”. Semua yang bisa digunakan sebagai medium cerita. Misalnya, di samping foto sebagai karya utama, kita bisa menambahkan sound effect, musik, video, lukisan atau gambar, bahkan patung.

“Saya ingin menunjukkan bahwa fotografi itu jangan dijadikan sebagai penjara. Storytelling adalah suatu ruang yang terbuka, bebas kita jelajahi,” tutur Saša.

Saša memperlihatkan contoh proyek foto close up portrait orang-orang tunawisma berjudul to Ronto (2011) yang direkam oleh Delibor Talajic. Saat karya tersebut digarap, sang fotografer hanya mengikuti workshop pendek di Toronto, Kanada, sehingga tidak sempat melakukan banyak riset. Akhirnya ia menambahkan lapisan emosional dari proyek tersebut dengan efek suara. Hasilnya punya efek berbeda jika dibandingkan dengan tampilan foto still saja.

“Seandainya ada foto yang cerita dan visualnya kurang kuat, apakah itu bisa diperkuat dengan presentasi? Atau justru sebaliknya, visualnya dulu yang harus kuat baru kemudian presentasi multimedia bisa mengikuti untuk menambah target audiens?” Tanya Johannes P. Christo, salah satu peserta PPG 2020 yang juga merupakan pewarta foto lepas dari Denpasar.

Menurut Saša, jika visual cerita itu entah kuat atau tidak kuat, sebetulnya tiap elemen memiliki kekuatannya masing-masing. Misalnya elemen musik, kekuatannya adalah untuk memicu memori karena dari setiap suara yang didengar kita akan mendapatkan kilasan-kilasan ingatan yang pernah terjadi sebelumnya. Lain hal lagi soal elemen visual, ia memiliki ketertarikan simfoni yang muncul dalam satu waktu lewat gambar still. Lalu, elemen teks memiliki kekuatan informasi yang terkandung di dalamnya. Sementara kekuatan dari elemen efek suara adalah memberi nuansa emosi, misalkan suara-suara tertentu yang menimbulkan kesan tegang dan drama.

Oleh sebab itu, peran riset audiens menjadi penting sebab kita ingin berinteraksi dengan audiens secara emosional dan penyajian karya dalam bentuk multimedia menyediakan keluasan dan kebebasan eksplorasi.

Pameran di dalam ruang tiga dimensi tentu akan berbeda jika dibandingkan dengan presentasi di dalam buku foto (dua dimensi). Setiap ruang, setiap medium, dan setiap audiens membutuhkan cara dan perlakuan yang berbeda-beda.

“Pada masa sekarang, eksplorasi penggunaan multimedia semakin luas, batasan-batasan lama sudah tidak ada lagi. Bahkan, pameran saat ini jauh lebih berani, tidak melulu menggantungkan foto-foto di dinding dalam ukuran yang sama, presentasi semacam ini agak membosankan,” jelas Saša. // Rizka Khaerunnisa