Rahmad Azhar Hutomo (kanan) penerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2019 bersama Ibu Joyce Nijssen (Acting Director Erasmus Huis) (kiri)

Rahmad Azhar Hutomo (kanan) penerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2019 bersama Ibu Joyce Nijssen (Acting Director Erasmus Huis) (kiri)

Rangkaian program Permata PhotoJournalist Grant – Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam menawarkan beragam kesempatan bagi pewarta foto untuk mengembangkan kualitas pewarta foto di Indonesia. Mulai dari pelatihan fotografi, workshop intensif, pelatihan trainers, hingga kunjungan kerja ke Amsterdam, Belanda. Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam, program yang didedikasikan khusus bagi alumni program Permata PhotoJournalist Grant, memberikan kesempatan untuk mengunjungi Belanda, mengerjakan photo story dibawah bimbingan fotografer NOOR, Kadir van Lohuizen, serta menghadiri ajang bergengsi World Press Photo Awarding Days.

Program Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam telah mengirimkan lima alumni PPG selama lima tahun terakhir. Pada tahun keenam ini, alumni PPG yang mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Belanda adalah Rahmad Azhar Hutomo (Fotografer National Geographic Indonesia & Alumni PPG 2017). Kami menghubungi Azhar untuk berbincang dengan terpilihnya dalam program ini serta persiapan keberangkatan:

Bagaimana rasanya terpilih untuk menerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2019?
Senang dan lega. Lega, setelah penantian kurang lebih satu bulan. Senang karena ini akan menjadi pengalaman pertama melancong ke luar negeri. Saat pengumuman, saya tak menduga nama dan wajah saya terpampang di layar besar auditorium Erasmus Huis sebagai fellow terpilih.

Adakah yang menjadi motivasi untuk mengikuti Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam?
Tiga tahun lalu saya membuat liputan tentang Dwi Prasetya, penerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam tahun 2016. Saat itu saya menerima oleh-oleh cerita foto tentang ganja yang legal di Belanda. Dari obrolan dengan Dwi Prasetya itu saya jadi ingin mencoba maka saya mendaftarkan diri untuk mengikuti program PPG baru kemudian mendaftar untuk mengikuti program Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam.

Saat masih menjadi peserta PPG 2017, dalam hati saya berjanji untuk mengikuti program Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam tahun depan guna memperdalam kemampuan bercerita melalui visual story telling.

Selama kunjungan ke Belanda nanti Azhar harus membuat sebuah photo story. Bisa ceritakan photo story apa yang akan dibuat?
Selama kurang lebih satu Minggu di Belanda saya akan fokus memotret kisah buruh migran tak berdokumen (Undocumented Migrant Worker) yang berasal dari Indonesia. Beberapa buruh migran ini merupakan korban penipuan akan iming-iming bekerja di Belanda dengan penghasilan yang muluk.

Para buruh migran ini sangat rentan terkena eksploitasi dalam bekerja, karena mereka tidak memiliki dokumen yang legal dan di saat yang sama kerap harus berpindah-pindah tempat tinggal. Saya akan merekam sebagian kehidupan para buruh migran ini, ibarat seorang yang gerilya dalam medan pertempuran. Mereka bekerja dalam bayang-bayang resiko dimanapun mereka berada.

Bulan April 2019 menjadi bulan pesta demokrasi bagi Warga Negara Indonesia dimanapun, termasuk di Belanda, untuk memilih presiden dan wakilnya. Saya penasaran apakah buruh migran tak berdokumen ini tetap diakui identitasnya sebagai warga Indonesia yang ada di Belanda? Sehingga mereka tetap bisa berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut.

Untuk persiapannya sendiri bagaimana?
Untuk persiapan, sejak bulan Februari lalu saya sudah mengontak tetangga saya di kampung Bantul, Teguh Hartanto, yang saat ini tinggal di Belanda. Di sana, ia kebetulan bersinggungan dengan teman-teman buruh migran tak berdokumen. Selain itu, saya juga mulai menghubungi salah satu aktivis Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) Netherlands, Yasmine Soraya yang bergerak di bidang yang sama. Tujuan saya mendapatkan akses dan narasumber, mengingat isu ini cukup sensitif.

(Lisna Dwi Astuti / Foto: Agoes Rudianto)


Rahmad Azhar Hutomo lahir di Yogyakarta, merampungkan program studi Ilmu Kearsipan di Universitas Gadjah mada pada tahun 2014. Ketertarikannya dengan dunia fotografi bermula dari rangkaian foto aksi para pemain skateboard di majalah Transworld Skateboarding yang membuatnya terkesima. Kamera pertamanya diperoleh saat menerima beasiswa di masa kuliah. Azhar kemudian menjadi siswa sit-in materi fotografi jurnalistik di Kelas Pagi Yogyakarta pada angkatan III dan memperdalamnya di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) angkatan XXI tahun 2015.

Karya pertamanya berjudul ‘Teror Timbal Hitam’ dalam pameran bertajuk ‘Arkamaya’ (2015) menjadi bagian penting yang dipamerkan dalam tugas akhir di GFJA. Kini, Azhar bergabung bersama National Geographic Indonesia sebagai fotografer. Pada tahun 2017 lalu Azhar juga menjadi peserta PPG dengan tema ‘Change’.