Rahmad Azhar Hutomo (kanan) penerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2019 bersama Ibu Joyce Nijssen (Acting Director Erasmus Huis) (kiri)

Rahmad Azhar Hutomo (kanan) penerima Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2019 bersama Ibu Joyce Nijssen (Acting Director Erasmus Huis) (kiri)

Rahmad Azhar Hutomo, pewarta foto National Geographic Indonesia dan alumni program Permata PhotoJournalist Grant 2017, menerima kesempatan untuk melakukan residensi ke Amsterdam, Belanda melalui program Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam 2019. Dalam kunjungannya ke Amsterdam tersebut Ia akan membuat sebuah proyek photo story di bawah bimbingan Kadir van Lohuizen (NOOR Photo Agency) dan menghadiri World Press Photo Festival yang akan berlangsung 12-13 April 2019 di kota Amsterdam.

“Pada saat pengumuman, layar yang begitu besar di auditorium Erasmus Huis menampilkan nama dan wajah saya, sangat tidak terduga. Rasanya senang dan lega, setelah penantian kurang lebih satu bulan. Ditambah lagi, ini akan jadi pengalaman pertama melancong ke luar negeri”.

Kemudian Azhar membagikan sedikit tentang proyek yang akan ia kerjakan selama residensi serta persiapan pengerjaannya, “Saya akan memotret kisah buruh migran tak berdokumen (Undocumented Migrant Worker) di Belanda yang berasal dari Indonesia. Beberapa buruh migran ini merupakan korban penipuan akan iming-iming bekerja di Belanda dengan penghasilan tinggi.

Saya akan merekam sebagian kehidupan para buruh migran ini, ibarat seorang yang gerilya dalam medan pertempuran, dibayangi resiko dimanapun mereka berada. Sementara itu, bulan April 2019 ini adalah bulan pesta demokrasi bagi warga Indonesia, untuk memilih presiden dan wakilnya. Lalu, bagaimana dengan buruh migran tak berdokumen ini? Apakah identitasnya sebagai warga Indonesia tetap diakui di Belanda?

Sementara untuk persiapan, semenjak bulan Februari lalu saya sudah menghubungi tetangga saya, Teguh Hartanto di kampung Bantul yang saat ini tinggal di Belanda. Kebetulan dia juga bersinggungan dengan teman-teman buruh migran tak berdokumen di sana. Kemudian saya juga menghubungi salah satu aktivis dari Indonesian Migrant Workers Union Netherlands, Yasmine Soraya yang bergerak di bidang yang sama. Tujuan saya mendapatkan akses dan narasumber, mengingat isu ini cukup sensitif.”

(Lisna Dwi Astuti / Foto: Agoes Rudianto)

Rahmad Azhar Hutomo lahir di Yogyakarta, merampungkan program studi Ilmu Kearsipan di Universitas Gadjah mada pada tahun 2014. Ketertarikannya dengan dunia fotografi bermula dari rangkaian foto aksi para pemain skateboard di majalah Transworld Skateboarding yang membuatnya terkesima. Kamera pertamanya diperoleh saat menerima beasiswa di masa kuliah. Azhar kemudian menjadi siswa sit-in materi fotografi jurnalistik di Kelas Pagi Yogyakarta pada angkatan III dan memperdalamnya di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) angkatan XXI tahun 2015.

Karya pertamanya berjudul ‘Teror Timbal Hitam’ dalam pameran bertajuk ‘Arkamaya’ (2015) menjadi bagian penting yang dipamerkan dalam tugas akhir di GFJA. Kini, Azhar bergabung bersama National Geographic Indonesia sebagai fotografer. Pada tahun 2017 lalu Azhar juga menjadi peserta PPG dengan tema ‘Change’.